news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Hari Sumpah Pemuda.
Sumber :
  • Ilustrasi AI/ChatGPT

4 Puisi Chairil Anwar untuk Momen Hari Sumpah Pemuda 2026, Penuh Semangat Perjuangan

Berikut 4 puisi karya Chairil Anwal yang cocok dibacakan pada momen Hari Sumpah Pemuda 2026, penuh semangat perjuangan.
Senin, 26 Oktober 2026 - 13:12 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan generasi muda dalam memperjuangkan persatuan dan kemerdekaan Indonesia. 

Peringatan yang jatuh setiap 28 Oktober ini juga dapat menjadi kesempatan untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme melalui berbagai cara, salah satunya dengan membaca puisi bertema perjuangan.

Salah satu penyair Indonesia yang karyanya kerap dikaitkan dengan semangat perjuangan adalah Chairil Anwar. 

Penyair yang dikenal sebagai pelopor Angkatan '45 ini melahirkan sejumlah karya yang menggambarkan keberanian, semangat hidup, dan kegigihan dalam menghadapi tantangan.

Puisi-puisinya dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi muda untuk memahami arti perjuangan, menghargai pengorbanan para pahlawan, serta meneruskan cita-cita bangsa.

Berikut empat puisi Chairil Anwar yang dapat menjadi referensi untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Ilustrasi Sumpah Pemuda
Sumber :
  • Pexels/Irgi Nur Fadil

1. Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
 

2. Diponegoro

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak getar. Lawan banyaknya serratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti

Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu negeri

Menyediakan api.

Punah di atas ditindas

Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

Maju

Serbu

Serang

Terjang
 

3. Karawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
 

4. Persetujuan dengan Bung Karno

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(gwn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:02
14:03
08:06
08:08
08:29
08:13

Viral