- Dibuat oleh Gemini AI
Apa Benar Sound Horeg Bisa Merusak Pendengaran dan Menurunkan Fungsi Otak? Ini Penjelasan Ilmiahnya
tvOnenews.com - Sound Horeg bukan hanya soal dentuman bass yang keras hingga membuat dada ikut bergetar. Di balik kemeriahannya, suara dengan volume tinggi juga menyimpan risiko kesehatan, terutama jika seseorang terpapar dalam waktu lama dan berulang kali. Lantas, benarkah Sound Horeg bisa menyebabkan Gangguan Pendengaran hingga memengaruhi Fungsi Otak?
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc., menjelaskan bahwa risiko paparan sound horeg tidak hanya ditentukan oleh irama musik, tetapi juga tingkat desibel, durasi, dan frekuensi paparan.
Dalam unggahan Reels di akun Instagram pribadinya pada 17 September 2026, Prof. Zulys menguraikan dampak kebisingan terhadap pendengaran serta kemungkinan kaitannya dengan fungsi otak.
Sound Horeg Bisa Mencapai 120–140 Desibel
Menurut Prof. Zulys, sound horeg memiliki karakteristik suara bass yang kuat. Namun, dari sudut pandang sains, hal yang perlu diperhatikan bukan hanya iramanya, melainkan juga seberapa keras suara yang dihasilkan dan berapa lama seseorang terpapar.
“Sound horeg memang fenomenal, bassnya bukan cuma terdengar duk duk duk, kadang dada ikut bergetar. Dalam sains masalahnya bukan saja iramanya tetapi berapa desibel suaranya, berapa lama dengarnya, dan berapa sering terpaparnya,” ujar Prof. Zulys dalam unggahan Reels Instagram pribadinya pada 17 September 2026.
Ia juga menyebut bahwa sejumlah artikel ilmiah mengungkapkan tingkat suara sound horeg dapat mencapai kisaran 120–140 desibel. Angka tersebut menunjukkan tingkat kebisingan yang sangat tinggi dan berpotensi membahayakan pendengaran.
“Artikel ilmiah mengungkapkan bahwa sound horeg dapat berada pada kisaran 120-140 desibel. Padahal batas nyaman mendengar suara di bawah 85 desibel,” ungkapnya.
Prof. Zulys turut menyinggung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai tingkat suara dan durasi paparan yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan pendengaran.
“Data WHO merekomendasikan pendengaran yang nyaman pada 80 desibel sekitar 40 jam per minggu,” tuturnya.
Risiko gangguan pendengaran bergantung pada tingkat kebisingan dan lamanya paparan. Semakin tinggi intensitas suara, semakin besar pula risiko kerusakan pendengaran jika seseorang terpapar tanpa perlindungan yang memadai.