- youtube.com
Bagaimana Jika Calon Istri Sudah Tidak Perawan, Lanjut atau Tinggalkan? Ini Jawaban Buya Yahya
tvOnenews.com - Dalam salah satu kajiannya, salah seorang jamah bertanya pada Buya Yahya bagaimana jika calon istri sudah tidak perawan, apakah lanjut menikah atau ditinggalkan.
Salah satu jamaah bertanya pada Buya Yahya karena dilanda kegelisahan saat ingin menikah.
"Bagaimana jika calon istri sudah tidak perawan, dan dia pernah aborsi? Dia melakukan itu dengan mantannya. Saya harus bagaimana Buya Yahya, sedangkan jika meninggalkannya saya tidak bisa. Tapi di satu sisi, saya juga tidak mau seperti ini. Yang saya tau, lelaki baik itu untuk wanita baik, dan begitu pula sebaliknya. Namun mengapa yang menimpa saya berbeda. Saya tidak sejahat itu dulu kepada perempuan, saya jaga diri, tapi kenapa tidak dengan jodoh saya ini. Dan saya selalu teringat terus wajah dia dan mantannya disaat seperti ini. Saya kebayang terus saat lagi solat dan lainnya. Saya harus bagaimana Buya?," tanya salah satu jamaah pada Buya Yahya.
Dilansir dari channel Al-Bahjah TV dengan judul "Calon Istri Sudah Tidak Perawan - Buya Yahya Menjawab" yang diunggah pada 10 Februari 2019.
Buya Yahya menjawab dengan menerangkan 3 nasehat jika calon istri tidak perawan apakah lanjut atau ditinggalkan, yaitu:
1. Takutlah Pada Zina
Buya Yahya terlebih dahulu mengingatkan kepada jamaah untuk takut terhadap dosa zina. "Pertama, takutlah kepada zina," ujar Buya Yahya.
Menghindari zina sebenarnya mudah kata Buya Yahya karena sesungguhnya pintu halal sangat terbuka lebar dan begitu mudah untuk didapat.
Jadi sangat disayangkan jika ada seseorang terjerumus dalam zina padahal pintu halal begitu mudah.
Buya Yahya sampai menyebut zina adalah perbuatan yang sangat hina. "Perzinahan sangatlah hina," ujar Buya Yahya.
2. Pandailah menutup dengan cara bertaubat kepada Allah
Lantas bagaimana jika seorang wanita sudah terlanjur terjerumus dalam dosa zina?. "Menutup dengan Allah dengan cara bertaubat, serius, menangis, harus berani melupakan," kata Buya Yahya.
Buya menerangkan, pandai menutup dengan cara bertaubat kepada Allah secara serius, menyesal, dan menangis, serta harus berani melupakan kejadian tersebut.