- istimewa
Buat Merinding! Kisah Bos Bank Maspion Herman Halim Jadi Mualaf, Sempat Ditentang Keluarga
Memang, ia katakan, dirinya sudah mengenal Islam selam enam tahun lalu. Itu, katanya, berangkat mulai suka membaca buku-buku agama.
"Saya ini kan memang gemar membaca, segala buku agama saya baca, mulai buku Budha, Kong Hucu, Kristen dan Islam," ungkapnya.
Nah, kata ayah dua anak ini, dari kesukaannya membaca buku-buku agama, ia mulai menyerap intisari dari agama.
"Dari perenungan inti sari agama yang saya serap itu, bahwa semua agama itu benar dan mengajarkan kebaikan. Cuma pernyampaiannya bermacam-macam kan," jelasnya.
"Jadi, saya pun melihat di sini, bahwa ISlam adalah agam terakhir, dan saya ambil dari semua intisari agama yang telah ada, sehingga saya menemukan bahwa ajaran agama Islam begitu lugas dan mudah diserap secara kaidah," ujarnya.
Di samping itu, ia ceritakan, dalam keluarganya memang tidak ada yang fanatik dalam agama, bahkan dalam keluarganya memeluk beberapa agama.
"Saya dulu agamanya Kristen. Sedangkan saudara saya ada yang Budha ada juga yang Kong Hucu. Malah, istri saya beragama Budha,” ucap Herman Halim.
Bahkan, dia akui, soal menganut agama di keluarganya, dirinya tidak pernah memaksakan kepada kedua anaknya.
“Anak saya bebaskan dalam memilih agama. Saya tidak pernah melarang hal itu,” ujarnya.
Apalagi, katanya dengan anak keduanya Andrew, yang ia bebaskan untuk memeluk agama apa saja dan pada akhirnya memilih untuk memeluk agama Islam.
Bahkan, ia kaget dengan jawaban anak keduanya ingin masuk Islam. Hal itu terjadi, saat ia mempertanyakan sikap anaknya ingin memeluk agama Islam.
“Apa perbedaannya dengan agama yang kamu yakini selama ini ?” Tanya Herman Halim kepada Andrew saat itu.
“Saya pernah mencoba memeluk beberapa agama. Namun, Islamlah yang membuat saya lebih tenang dan pas. Dan saya bisa lebih gampang menangkap ajaran Islam dari pada yang lain,” ujar Herman yang menirukan pendapat Andrew (anak keduanya).
Nah, dari diskusi antara dia dan anaknya itu, yang membuat Herman Halim penasaran hingga terus mencari-cari jawaban atas argumen yang dikemukan anaknya.