- Tangkapan layar YouTube Kurnia FM
Tahlilan Menjadi Tradisi di Indonesia tapi Sahabat Nabi SAW Tak Pernah, Kenapa? Gus Baha Peringatkan Jangan Keliru
tvOnenews.com - Tahlilan bisa dibilang menjadi tradisi keagamaan dalam Islam. Kegiatan ini telah mendarah daging di Indonesia.
Tahlilan pasalnya melibatkan beberapa bacaan, seperti kalimat doa, dzikir, Ayat Suci Al Quran. Lafalnya mengarahkan kepada orang telah meninggal dunia.
Persoalan hukumnya, zaman sekarang masih memperdebatkan apakah tahlilan dibolehkan dalam agama Islam. Pada zaman Nabi, belum ada sahabat mengadakan kegiatan keagamaan ini.
Hal ini berkaitan dengan tradisi tahlilan di Indonesia sudah melekat, terkhusus bagi umat Islam di pulau Jawa.
Lantas, mengapa para sahabat Nabi SAW tidak melakukan tahlilan apabila ada orang meninggal dunia?
- iStockPhoto
Dilansir tvOnenews.com dari channel YouTube Kalam-Kajian Islam, Kamis (20/2/2025), Gus Baha menyoroti perdebatan soal tahlilan.
Ada beberapa hal mengapa tahlilan selalu menjadi kegiatan umat Muslim jika tetangga sekitar atau keluarganya ada yang meninggal dunia.
Tahlilan secara umumnya mengutarakan sikap empati dan simpati, apalagi orang di sekitaran sedang berduka setelah ditinggal salah satu anggota keluarganya yang meninggal dunia.
Tujuan tahlilan memang memberikan hal kebaikan, namun mendapatkan pertentangan yang hingga kini diperdebatkan persoalan hukumnya.
Gus Baha memahami sebagian orang menyebutkan tahlilan dianggap sebagai kegiatan bid'ah. Aktivitas keagamaan ini walaupun disebut bertentangan telah mendarah daging di Indonesia.
Kebanyakan mengadakan tahlilan di pulau Jawa, walaupun di wilayah lainnya hanya kecipratan kebiasaan ini. Namun, tetap saja hampir semua umat Muslim di Indonesia melakukannya.
Gus Baha menyayangkan walaupun hukum tahlilan masih diperdebatkan oleh berbagai kalangan, tidak boleh membandingkan kondisi saat ini dengan di zaman para sahabat Nabi SAW.
"Maka orang-orang di luar sana mengatakan, andaikan tahlil itu baik, pasti dilakukan sahabat. Itu logika yang keliru," ujar Gus Baha.
Pendakwah asal Rembang ini mencontohkan, ibaratnya jika sahabat mengadakan tahlilan, apalagi dalam kondisi Nabi Muhammad SAW setelah meninggal dunia, hanya bisa memunculkan kekeliruan.
"Sahabat tidak mungkin kan menahlilkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Mengatakan inkana muhsinan, sido kafir ngoten niku (jadi kafir begitu itu)," terang dia menggunakan khas bahasa Jawa.
Pola pikir seperti itu bisa mengambil kasus seorang murid telah ditinggalkan oleh guru tercintanya yang sudah wafat.
Menurutnya, tindakan seperti ini hanya memberikan adab yang kurang baik, apalagi kalau membentuk pola pikir dengan cara membanding-bandingkan kondisi zaman dahulu.
Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA itu menyayangkan jika ada pola pikir bahkan sampai terucap "andai dia baik, tambahkanlah kebaikannya" saat melakukan tahlilan.
"(Seharusnya murid berkata) 'dia orang baik, maka tambahkanlah kebaikannya," ucap dia.
Murid kesayangannya almarhum Mbah Moen itu menambahkan bahwa pola pikir yang keliru tersebut, seolah-olah meminta kepada mayit. Padahal orang meninggal dunia hanya tersisa jasadnya, itu pun harus segera dimakamkan.
"Ibaratnya, pertanyaannya seperti ini, lepas dari Anda kurang ajarlah, tapi ada kepastian bahwa ini tidak minta kepada mayit. Tuduhan bahwa kita minta kepada mayit itu salah, karena kita datang ke kuburan itu malah memintakan ampunan untuk mayit," paparnya.
Gus Baha menyarankan tidak perlu diperdebatkan soal hukum tahlilan. Tugas kita sebagai orang mukmin hanya mengikuti mazhab yang kebenarannya telah teruji.
Ia mengharapkan spekulasi tahlilan di kuburan, setidaknya tidak dianggap sebagai kafir, sebab kegiatan keagamaan ini meminta hajat agar kesalahan mayit di dunia diampuni oleh Allah SWT.
"Neg kangge guru nggeh dikurangilah (kalau untuk guru ya dikurangilah). Engkau Maha Pengampun, saya memohon guru saya ini, Engkau ampuni. Jadi, kalau dikuburan, jangan doa pakai doa yang ada dalam doa mayit," tandasnya.
(hap)