- Freepik
Esensi Mudik Bukan Balik ke Kampung Halaman, Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Ustaz Adi Hidayat Ungkap Makna Sebenarnya
tvOnenews.com - Mudik merupakan kegiatan perjalanan jauh telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia.
Banyak umat Muslim di Indonesia bersuka cita dengan cara mudik ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran setelah berpuasa penuh di bulan Ramadhan.
Banyak orang beranggapan bahwa mudik adalah perjalanan menuju kampung halaman. Kegiatan ini menuntun seseorang telah merantau akan kembali bersua dengan keluarga tercintanya.
Namun, esensi mudik sebenarnya bukan berarti pulang ke kampung halaman. Ada makna lain yang masih menjadi tanda tanya terkait makna mudik Lebaran.
Lantas, seperti apa esensi mudik sebenarnyya jika bukan bermakna pulang ke kampung halaman? Menteri Agama (Menag) Prof. Nasaruddin Umar dan Ustaz Adi Hidayat menjelaskan hal ini sebagai berikut.
Esensi Mudik Lebaran Penjelasan Menteri Agama Nasaruddin Umar
- tvOnenews.com/Hilal Aulia Pasya
Dalam suatu tausiyahnya, Nasaruddin Umar menyebutkan bahwa, mudik memang bertujuan agar seseorang bisa bertemu dengan keluarga di kampung halamannya.
Namun, esensi kuat dari mudik adalah pulang kembali ke asalnya. Maksudnya, setiap umat manusia akan berpulang ke pangkuan Allah SWT.
"Mudik itu pulang kampung halaman. Pulang kampung di sini memiliki makna bahwa, setiap orang akan kembali kepada jati dirinya diciptakan Allah SWT Sang Pencipta," ujar Menag Nasaruddin Umar saat mengisi ceramah itikaf malam ke-27 Ramadhan di Masjid Istiqlal, Jakarta dikutip, Jumat (28/3/2025).
Imam Besar Masjid Istiqlal itu menuturkan, asal-usul manusia berasal dari Nabi Adam AS. Beliau pertama kali ditempatkan oleh Allah SWT berada di surga.
Maka dari itu, setiap manusia khususnya umat Islam mendapat tugas agar selalu bertakwa bagaimana bisa kembali memperoleh tiket menuju surga.
"Itulah esensi mudik kembali menuju Tuhan, karena kita di sini hanya sebentar saja walaupun jika diartikan bertemu atau silaturahmi," tuturnya.
Esensi Mudik Lebaran Penjelasan Ustaz Adi Hidayat
- Tangkapan layar YouTube Adi Hidayat Official
Senada dengan Menag Nasaruddin Umar, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, esensi mudik sebenarnya memberikan pesan takdir manusia akan kembali kepada Sang Pencipta.
"Dan diderivasikan dari kata ada, ada yaudu ida adalah mudik kembali ke tempat asal," kata Ustaz Adi Hidayat dikutip tvOnenews.com dari kanal YouTube Adi Hidayat Official, Jumat (28/3/2025).
Direktur Quantum Akhyar Institute itu mengambil definisi umum kata mudik yang berarti ke tempat asal jika diartikan dalam bahasa Arab.
"Disebut oleh Al-Quran dengan kata ma'ad tempatnya ada yaudu edan tempatnya," tuturnya.
UAH sapaan akrabnya menuturkan, setiap umat Muslim akan melakukan persiapan apa pun sebelum pulang. Hal ini telah melekat sebagai tradisi tahunan.
Pembekalan tersebut bukan berarti membawa barang-barang sebagai kebutuhan di jalan atau untuk sanak keluarga, tetapi mempersiapkan segala hal akan menghadapi akhirat.
"Maka ini memberikan kesan kepada kita untuk belajar, bahwa untuk bekal pulang level dunia saja kita menyiapkannya dengan serius sungguh-sungguh, maka bagaimana dengan kampung akhirat kita yang sesungguhnya itu tempat sejati dan abadi kita untuk berpulang?," jelasnya.
"Mudik kembali ke kampung akhirat, mudik untuk berjumpa menghadap Sang pencipta Allah subhanahu wa ta'ala," tambah dia.
Pendakwah kelahiran asal Pandeglang, Banten itu mencontohkan kemacetan saat mudik. Esensi sebenarnya merupakan manusia sedang mengantre untuk mendapat jatah tiket surga di akhirat nanti.
"Dari situasi mudik ini kalau sekarang ada kemacetan sekarang ada kesulitan di perjalanan, ada keringat perlu lelah mengantre dan lain sebagainya, maka di akhirat nanti bukan hanya drama lagi tapi segala yang sejati sungguh terjadi," bebernya.
Antrean ini menjadi ujian sebenarnya apakah seorang mukmin mendapat kesabaran atau tidak tahan dengan kemacetan yang dialaminya saat mudik.
"Kepadatan, kepenatan menunggu hisab antrean saat kita mudik berpulang keharibaan Allah subhanahu wa ta'ala, persoalan terbesar apakah bekal kita cukup?," tanya UAH.
Ustaz Adi berpesan agar makna ini menjadi acuan penting bagi orang yang akan mudik menyiapkan pembekalan sebaik-baiknya. Hal ini tidak jauh berbeda dengan persiapan menuju akhirat.
"Agar nanti rumah kita insya Allah di surga tertata rapi indah dan kita disambut oleh para malaikat, karena dengan bekal yang terbaik itu ada janji kenikmatan paripurna yang bisa kita rasakan," terangnya.
"Malaikat datang menyambut di setiap titian pintu surga dan mengatakan selamat Anda sabar dalam mencari bekal untuk pulang sekarang," lanjutnya memaparkan.
"Silakan nikmati tempat terindah yang telah disajikan dan belum pernah dijamah oleh makhluk Allah manapun yang pernah berkehidupan Quran surah ke-13 Ar-Ra'd di ayat ke-24," tukasnya.
(hap)