- Kolase tangkapan layar YouTube Rhenald Kasali & ANTARA
Bukan Cuma Bela Ketum GRIB, Mantan Kepala BIN Hendropriyono Bilang Hercules yang Religius Jadi Korban Konspirasi
"Coba kasih jabatan dia jadi direktur perusahaan, pasti mau kan, tapi dia memilih preman karena udah terima dia kerja dengan kaki buntung, tangan buntung, mata satu. Jadi dengan dia keadaan 50 persen dari senjata hidupnya itu, kalau kami merasa kasian," tuturnya.
Terkini, Hendropriyono kembali membicarakan sosok Hercules dan maraknya aksi premanisme di seluruh wilayah Indonesia saat berbincang bersama dengan Rhenald Kasali.
"Kita ambil contoh akhir yang ramai ini soal Hercules. Ini kan hanya sebagian premanisme, dia hanya keamanan saja. Ini sebetulnya relatif lebih mudah dibandingkan premanisme yang menggila," terang Hendropriyono dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube Rhenald Kasali, Senin.
Hendropriyono sebenarnya juga menolak aksi premanisme. Namun, mantan Kepala BIN itu mengatakan penolakan harus diperlukan adanya kekuatan dan legalitas.
Soal Hercules, Hendropriyono memahami bisa merasakan hati Ketua Umum GRIB itu dituding "preman" oleh mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn.) Gatot Nurmantyo.
Hercules Jadi Korban Konspirasi Global
Hendropriyono kembali menyinggung bahwa, Hercules sebagai preman insaf yang hanya menjadi korban konspirasi secara global bersama Prajurit TNI di masa lampau.
"Dia dan para prajurit kita adalah korban dari konspirasi global, yang menyuruh kita ke tim-tim dulu siapa? Amerika. Sebenarnya Amerika ingin membalas kekecewaan terhadap kekalahan dalam peperangan Vietnam," tuturnya.
"Jadi kita punya berpikiran ke situ, bahwa Hercules cs ini adalah korban dari transisi ini termasuk perwira-perwira yang dulu para veteran. Semuanya korban konspirasi internasional," lanjutnya.
Hendropriyono mempertanyakan peran pembinaan dari pemerintah jika Hercules memilih jalan seperti itu. Bagi dia, mantan preman legendaris itu bukan teroris, melainkan bekas pahlawan.
"Yang sebenarnya harus kita bina secara sistemik, dia harus mencari makan sendiri. Kalau waktu di Timor Timur, dia itu kita percaya pegang kunci gudang senjata dan peluru," tegasnya.
Hendropriyono mengibaratkan, satu kesalahan tidak boleh membunuh karakternya yang pernah berjasa terhadap bangsa Indonesia demi mempertahankan Timor Timur.
"Misalnya kesalahannya, jangan dibunuh dong, walaupun pembunuhan itu perdata bisa mempengaruhi nasionalisme dia langsung padam," pesannya.