- Pexels/Mohammed Alim
Masuk Bulan Sya’ban, Buya Yahya Ingatkan Luruskan Niat Shalat Malam Nisfu Sya'ban
Ia mencontohkan bahwa tradisi shalat malam Nisfu Sya’ban bisa diisi dengan amalan yang selaras dengan hadits Nabi SAW, terutama memperbanyak istighfar dan memohon ampunan Allah.
- freepik
“Kita mengadakan shalat Nisfu Sya’ban, cuma di dalamnya kita ajak beristighfar sesuai dengan hadits Nabi, Allah akan mengampuni, kita minta ampun kepada Allah sebanyak-banyaknya,” lanjutnya.
Buya Yahya juga menganjurkan, jika waktu memungkinkan, rangkaian ibadah bisa diawali dengan shalat witir 11 rakaat, dilanjutkan shalat hajat, shalat istikharah, dan ibadah lainnya, lalu ditutup dengan doa yang panjang.
Doa tersebut dianjurkan mencakup permohonan untuk diri sendiri, orang tua, serta sanak keluarga.
Ia menegaskan bahwa kemuliaan malam Nisfu Sya’ban tidak bisa diingkari.
“Kita mengadakan karena memang Nabi menyebutkan malam Nisfu Sya’ban, jangan seperti sebagian orang yang mengatakan, ‘Nggak ada kelebihannya, bid’ah,...’,*” tegas Buya Yahya.
Menurutnya, yang diperdebatkan oleh Ibnu Hajar bukanlah kemuliaan malam Nisfu Sya’bannya, melainkan bentuk amalan shalat tertentu yang dilakukan.
Malam Nisfu Sya’ban sendiri tetap memiliki keutamaan.
- Unsplash/Masjid Pogung Dalangan
“Makanya kalau sudah punya kebiasaan, jangan dibatalkan. Itu kampung yang suka ibadah, tinggal perlu disempurnakan dengan niat-niat yang baik,” kata Buya Yahya.
Dengan pendekatan ini, Buya Yahya berharap masyarakat dapat terus menjaga semangat ibadah di bulan Sya’ban, tanpa terjebak pada perdebatan yang justru memecah persatuan. (gwn)