- Ilustrasi AI
Meninggal di Bulan Ramadhan, Benarkah Tanda Husnul Khotimah? Begini Penjelasan Ustaz Adi Hidayat
tvOnenews.com - Bulan Ramadhan kerap disebut sebagai bulan penuh berkah.
Di dalamnya terdapat limpahan ampunan, pahala yang dilipatgandakan, serta berbagai keutamaan yang tidak dijumpai di bulan lain.
Karena itu, ketika ada seseorang yang meninggal dunia di bulan suci ini, tak sedikit orang yang langsung beranggapan bahwa wafatnya merupakan tanda husnul khotimah.
Namun, benarkah demikian? Apakah meninggal di bulan Ramadhan otomatis menjadi jaminan akhir yang baik di sisi Allah SWT? Berikut penjelasan dari Ustaz Adi Hidayat.
Dua Sudut Pandang: Waktu dan Amal
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa orang yang meninggal di bulan Ramadhan perlu dilihat dari dua sudut pandang.
“Orang yang meninggal di bulan Ramadhan, kita lihat dari dua sudut pandang,” jelasnya.
Sudut pandang pertama adalah dari sisi waktu.
Dalam Islam, memang ada waktu-waktu yang diistimewakan oleh Allah SWT.
Ada waktu harian seperti sepertiga malam terakhir, waktu bulanan seperti Ramadhan, hingga waktu tahunan yang memiliki keutamaan khusus.
“Dari waktu memang ada yang diistimewakan oleh Allah SWT. Berbeda dengan waktu lainnya, ada waktu harian, sepertiga malam, ada waktu bulanan, dan ada waktu tahunan seperti Ramadhan,” terangnya.
Di bulan Ramadhan, amal shaleh ditingkatkan dan pahala dilipatgandakan. Suasana ibadah pun terasa lebih kuat.
Namun, pertanyaannya, apakah waktu istimewa ini otomatis menjamin seseorang yang meninggal di dalamnya sebagai tanda kebaikan?
“Apakah waktu ini bisa menjamin ketika seseorang meninggal di bulan Ramadhan menjadi pertanda kebaikan? Belum tentu,” tegas Ustaz Adi Hidayat.
- Antara
Ukuran Sesungguhnya: Amal Shaleh
Menurut Ustaz Adi Hidayat, sudut pandang kedua justru menjadi yang paling penting, yakni kualitas amal shaleh seseorang semasa hidupnya.
“Maka ini diukur oleh bagian kedua, sebaik apa amal shaleh yang ia kerjakan. Ini yang paling penting,” ujarnya.
Ia memberikan perumpamaan yang sederhana namun tegas.
“Apa Anda bisa mengatakan kalau ada orang fasik, orang kriminal meninggal di bulan Ramadhan, apa dia istimewa? Bahkan ada orang kafir meninggal saat bulan Ramadhan, apa ini menandakan dia orang baik di hadapan Allah? Belum tentu,” ujar Ustaz Adi Hidayat.
Dari sini menjadi jelas bahwa waktu wafat bukanlah satu-satunya indikator kebaikan.
Ukuran utama tetaplah keimanan dan amal saleh yang dikerjakan.
- freepik
Ajal Tidak Bisa Dipilih
Ustaz Adi Hidayat juga mengingatkan bahwa ajal sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah SWT.
Manusia tidak bisa memilih kapan ia akan meninggal dunia.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran, Surah Al-A’raf ayat 34:
“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (QS. Al-A’raf:34)
“Setiap umat punya batas waktu usia maka dia tidak bisa memilih, mau maju mau lambat,” jelas Ustaz Adi Hidayat.
“Apa Anda bisa katakan, ‘Ya Allah kalau boleh tunda sedikit sampai Ramadhan’? Tidak. Ajal bukan seperti pernikahan yang bisa kita rencanakan kemudian bisa Anda tampilkan,” lanjutnya.
Ajal bisa datang kapan saja. Bahkan, satu menit sebelum Ramadhan tiba, seseorang bisa saja dipanggil menghadap Allah SWT.
Karena itu, menggantungkan harapan pada waktu tertentu tanpa memperbaiki amal adalah keliru.
- Ilustrasi AI
Kunci Husnul Khotimah
Lantas, bagaimana agar seseorang bisa meraih husnul khotimah?
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa kuncinya bukan pada kapan wafatnya, melainkan dalam kondisi apa seseorang kembali kepada Allah SWT.
“Jika Anda ingin meninggal dalam keadaan kebaikan, maka tingkatkan amal shaleh. Maka kapanpun Anda kembali pada Allah, Anda akan diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah,” tuturnya.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Fajr ayat 27–30 yang menggambarkan panggilan penuh ketenangan kepada jiwa yang tenang.
“Bagaimana bisa dipanggil dengan tenang? Jika Anda sering mendekatkan diri pada Allah SWT dalam meningkatkan amal shaleh,” tambahnya.
Meninggal di bulan Ramadhan memang terjadi di waktu yang istimewa.
Namun, itu bukan jaminan otomatis sebagai tanda husnul khotimah.
Ukuran sesungguhnya terletak pada iman dan amal saleh yang dilakukan semasa hidup.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan kualitas ketakwaan.
Dengan begitu, kapan pun ajal menjemput, seseorang akan kembali kepada Allah SWT dalam keadaan terbaik.
Karena pada akhirnya, bukan soal wafat di bulan apa, tetapi dalam keadaan apa kita menghadap-Nya. (gwn)