- Tovic/Media Center Haji 2024
Bagaimana Sih Cara Cepat Naik Haji? Begini Penjelasan Terbaik Ustaz Adi Hidayat
Jakarta, tvOnenews.com - Ibada haji merupakan rukun Islam yang kelima. Kewajiban dasar setiap Muslim melaksanakan ibadah ini bagi yang mampu.
Puncak ibadah haji jatuh pada 9 Zulhijah. Di tahun 2026, puncak ibadah haji bertepatan dengan Selasa, 26 Mei 2026, yang mengharuskan jemaah melaksanakan wukuf di Padang Arafah.
Di Indonesia, rangkaian kegiatan menuju pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah akan bergulir pada Selasa (21/4/2026). Jemaah mulai memasuki asrama haji untuk persiapan keberangkatan ke Tanah Suci.
Mengenai hal ini, Ustaz Adi Hidayat berbagi cara agar bisa cepat naik haji. Ia menjelaskan hal itu bertujuan ibadahnya sempurna, baik untuk yang sudah mendapat kuota maupun belum.
"Dengan waktu yang singkat ini boleh jadi bagaimana kita mempersiapkan persiapan terbaik agar dapat berhaji," ujar Ustaz Adi Hidayat disadur dari kanal YouTube Adi Hidayat Official, Senin (20/4/2026).
Cara Cepat Berangkat Ibadah Haji Versi Ustaz Adi Hidayat
- Tangkapan layar YouTube Adi Hidayat Official
Mulanya, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan tentang seputar ibadah haji. Hal ini tercantum dalam Surat Al-Baqarah Ayat 197, Allah SWT berfirman:
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
Artinya: "(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafas, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat" (QS. Al-Baqarah, 2:197)
UAH sapaan akrabnya memaparkan rangkaian tafsir ayat ini. Ia memulai dari kalimat "Al-Hajju" menunjukkan tentang puncak menuju ibadah Haji terletak di bulan yang masyhur.
Ia menerangkan masyarakat Arab di zaman dahulu telah mengetahui puncak ibadah haji jatuh pada tanggal 9 Zulhijah. Sementara, tanggal 10 hingga 13 menjadi bagian pokok mengakhiri puncak ibadah ini.
"Untuk menuju ke puncak ini, tentu dari berbagai pelosok itu akan banyak berdatangan sehingga bisa berpotensi menimbulkan keramaian tidak biasa. Beberapa bagian ada kemacetan, kemudian berpotensi menghadirkan satu kondisi yang padat luar biasa," terangnya.
Fenomena seperti ini, kata UAH, sudah diketahui oleh Allah SWT. Seiring berjalannya waktu, jumlah umat Muslim semakin bertambah untuk memenuhi ibadah wajib tersebut.
"Allah SWT sudah memberikan petunjuk kepada Rasulullah SAW agar dipersiapkan keberangkatan menuju haji itu bahkan sejal bulan-bulan sebelumnya bahwa mereka menuju puncak haji itu berangkat lebih awal, sebelum waktu puncaknya. Persiapan biasanya dimulai dari sejak bulan Syawal," jelasnya.
Namun, persiapan dasar melaksanakan ibadah haji yaitu dari kemantapan hati. Sebab, keberangkatan dari dua bulan sebelum puncak ibadah haji menunjukkan waktu persiapan akan berlangsung lama.
"Siapa yang memantapkan hatinya bersiap untuk bisa berhaji. Ini ayat terlihat ringkas, padat, tapi mahal sekali untuk kita pahami," tegasnya.
Melalui beberapa kalimat ayat tersebut, Allah SWT menawarkan informasi kepada calon jemaah secara personal. Kata UAH, waktu yang lama sebagai momentum terbaik mempersiapkan diri menyelesaikan ibadah haji.
"Allah meminta kita mempersiapkan dirimu, memantapkan dirimu, dan ini sifatnya terbuka mau laki-laki, perempuan, orang besar, kecil, atau orang tua," paparnya.
Ia menegaskan, melalui ayat ini menunjukkan tidak semua orang memiliki harta kekayaan berlimpah memantapkan hatinya ibadah haji. Ia berpendapat bagian ini sering keliru.
"Jangan disimpulkan untuk berhaji itu hak orang kaya saja, tidak, hak orang berlimpah saja, tidak, hak para sultan, tidak. Belum tentu orang disebut sultan yang istilahnya punya banyak harta kekayaan bisa berhaji, belum tentu," bebernya.
Direktur Quantum Akhyar Institute ini menegaskan, siapapun bisa naik haji. Maka dari itu, cara pertama adalah memiliki peluang mampu untuk bisa berangkat ke Tanah Suci.
Kemudian, ia mengulik tafsir kalimat "Farada". Ia membagikan tiga rangkaian definisi dalam kalimat tentang ibadah haji tersebut.
"Kewajiban, terukur/tertib, dan mantap/kuat," tuturnya.
Ia mencontohkan apabila aspek kewajiban bisa dipenuhi, mereka yang ingin berhaji merasa bahwa ibadah haji adalah sesuatu hal prioritas.
"Tidak hanya ditangkap sebagai sebuah peluang sehingga dia melekatkan sebuah kewajiban kepada dirinya untuk meraih itu (ibadah haji)," lanjutnya.
Ia menegaskan, ketika ibadah haji masuk skala prioritas, maka seseorang akan menjadikan ibadah ini sebagai sebuah rencana besar. Hal ini tentu akan berkaitan dengan waktu yang terukur atau tertib.
Terkait waktu terukur, UAH kembali menjelaskan tentang perencanaan yang matang dari ketiga waktu. Biasanya telah mempersiapkan sejak bulan Syawal, Dzulqaidah, kemudian puncak haji di Dzulhijjah.
Ia meyakini bagi yang memanfaatkan peluang. Kemudian, bisa memenuhi aspek kewajiban, waktu terukur, dan kemantapan hati sebagai cara kilat bisa pergi ibadah haji.
(hap)