- Unsplash/David Rodrigo
Teks Khutbah Jumat 23 Oktober 2026 Singkat: Peran Santri dalam Menjaga Agama dan Membangun Bangsa
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa ketakwaan dan tawakal merupakan bekal penting dalam menghadapi persoalan kehidupan. Namun, tawakal bukan berarti berdiam diri tanpa ikhtiar. Seorang Muslim tetap dituntut untuk berusaha, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Begitu pula dengan santri. Ilmu yang dipelajari di pesantren harus menjadi bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan, termasuk dalam menjaga nilai-nilai agama di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Salah satu tantangan besar pada masa sekarang adalah perkembangan teknologi digital dan penggunaan media sosial yang semakin luas. Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan untuk memperoleh informasi, belajar agama, dan menyebarkan kebaikan. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sarana penyebaran berita bohong, fitnah, ujaran kebencian, serta berbagai konten yang bertentangan dengan nilai-nilai moral.
Informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Tidak sedikit orang yang langsung mempercayai dan membagikan suatu berita tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Akibatnya, hubungan antarsesama dapat rusak, persaudaraan menjadi renggang, bahkan konflik di tengah masyarakat semakin sulit dihindari.
Dalam keadaan seperti ini, kehadiran orang-orang yang memiliki pemahaman agama yang baik sangat dibutuhkan. Santri dan para pencari ilmu agama memiliki tanggung jawab untuk ikut membangun masyarakat yang lebih bijak, beradab, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 122:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذذَرُونَ