- Tangkapan layar Youtube Red Sparks
Ditinggal Megawati Hangestri, Red Sparks Kini Jadi Sorotan Media Korea, Ada Apa?
Penampilannya kemudian semakin menonjol pada musim berikutnya ketika ia berduet dengan Bukilic dan membawa tim tersebut mencapai final.
Namun, keduanya memilih melanjutkan karier di tempat berbeda. Megawati menerima tawaran Hyundai Hillstate, sedangkan Bukilic kembali ke Red Sparks setelah sempat bermain di Eropa.
Kepindahan Megawati membuat Hyundai Hillstate mendapatkan tambahan kekuatan di sektor serangan.
Sebaliknya, Red Sparks harus menyusun ulang strategi permainan untuk mengisi peran yang sebelumnya dijalankan pemain asal Indonesia tersebut.
Menurut pemberitaan Oh My News, kemerosotan Red Sparks tidak hanya berkaitan dengan kepergian Megawati dan Bukilic. Klub tersebut juga kehilangan sejumlah pemain penting serta menghadapi persoalan di jajaran kepelatihan.
Salah satu pemain yang hengkang adalah Pyo Seung-ju. Negosiasi untuk mempertahankan outside hitter veteran tersebut tidak membuahkan hasil sehingga Red Sparks kehilangan opsi tambahan dalam memperkuat serangan.
Persoalan lainnya muncul ketika pemain kuota Asia, Wipawi Sitong, yang direkrut dari Thailand, tidak sempat tampil bersama Red Sparks.
Pemain tersebut kembali ke negaranya tanpa memainkan satu pertandingan pun dengan seragam klub asal Daejeon itu.
Red Sparks kemudian merekrut Inkushi dari Mongolia untuk mengisi posisi pemain kuota Asia. Namun, berdasarkan laporan media tersebut, performanya belum mampu memenuhi ekspektasi tim.
Di sektor pemain asing, Red Sparks juga mendatangkan Elisa Zanette dari Italia.
Akan tetapi, pemain tersebut disebut mengalami kesulitan beradaptasi dengan karakter permainan V-League yang sangat mengandalkan kontribusi pemain asing dalam menghasilkan poin.
Kombinasi berbagai persoalan tersebut membuat Red Sparks kesulitan menemukan performa terbaik. Mereka akhirnya menutup musim dengan catatan delapan kemenangan dan 28 kekalahan, mengumpulkan 26 poin, serta menempati posisi terakhir untuk pertama kalinya sejak musim 2018–2019.
Situasi itu menjadi kontras dengan pencapaian mereka pada musim 2024–2025. Ketika itu, Red Sparks mampu bersaing hingga final dan menunjukkan potensi untuk menjadi salah satu kekuatan utama di kompetisi voli putri Korea Selatan.
Masalah Red Sparks berlanjut setelah kompetisi berakhir. Pelatih kepala Ko Hee-jin mengundurkan diri pada Agustus 2026 di tengah kontroversi yang melibatkan seorang anggota staf pelatih.