Dukung Prabowo di Dua Kali Pilpres, Setelah Debat Reza Indragiri Akhirnya Komentari Soal Gimik Joget Gemoy: Executive Functioning Tertakar, Saya Berempati Pada Beliau
- tim tvOnenews/Muhammad Bagas
Jakarta, tvOnenews.com - Setelah debat perdana Pilpres 2024 digelar, Reza Indragiri Amriel selaku pakar psikologi forensik akhirnya angkat bicara mengenai joget gemoy Prabowo Subianto.
“Yang saya khawatirkan sepertinya terjadi,” ujar Reza mengawali pesannya kepada tvOnenews.com pada Selasa (12/12/2023) malam.
Hal ini karena menurut Reza, Prabowo terlampau sering berjoget gemoy.
Terlebih dalam momen yang serius.
“Sudah hampir dua jam debat berlangsung, Executive functioning Prabowo tertakar, dan saya berempati pada beliau,” kata Reza.
Reza mengaku sebagai orang yang mendukung Prabowo pada dua kali Pilpres, ia merisaukan executive functioning dari capres nomor 2 itu.
“Saya terpukau oleh kegesitan Prabowo di tahun 2014 dan 2019. Sekarang bukan kondisi fisik Prabowo yang saya risaukan,” kata Reza.
Hal ini karena Prabowo sudah menjalani pemeriksaan di rumah sakit.
“Joget berulang tanpa memperhatikan konteks acara, ditambah pernyataan-pernyataan Prabowo yang serba mengambang dan terputus, itulah yang membuat saya was-was akan satu hal. Yaitu, executive functioning Prabowo,” jelas Reza menambahkan.
Reza kemudian menjelaskan, executive functioning bersangkut paut dengan kesanggupan manusia mengelola informasi lalu membuat keputusan yang solid.
![]()
Prabowo Subianto saat Joget Gemoy (Istimewa)
“Joget Prabowo terkesan sebagai bentuk kompensasi, sekaligus pengalihan perhatian audiens, atas menurun jauhnya kemampuan Prabowo berpikir strategis dan tuntas di level tertinggi pejabat negara,” kata Reza.
Reza kemudian mengatakan bahwa strategi branding lewat joget berpotensi menjadi senjata makan tuan.
“Ketika orang-orang di sekitar Prabowo terus mengarahkan Prabowo untuk berjoget, itu berarti mereka bukan melatih Prabowo untuk memulihkan executive functioning-nya, melainkan justru mempertumpul kapasitas kognitif Prabowo,” cemas Reza.
Reza mengakui bahwa Donald Trump pernah berjoget pada tahun 2019.
“Trump ajojing selepas lolos dari serangan Covid-19,” katanya.
Kemudian ada juga pemimpin negara yang melakukan hal yang sama, yakni Boris Yeltsin pada 1996.
“Yeltsin dikenal punya riwayat penyakit jantung. Jadi, kedua tokoh tadi berjoget dalam rangka meyakinkan publik bahwa mereka sehat,” kata Reza.
Menurut Reza, karena sehat, target Trump dan Yeltsin adalah agar masyarakat tidak ragu akan kesanggupan mereka memimpin.
Load more