Rahasia Kuasai Bahasa Arab dengan Metode 150 Jam, Indonesia Siap Jadi Penguasa Baru Standar Pembelajaran Bahasa Arab ASEAN
- Istockphoto
tvOnenews.com - Di era konektivitas global saat ini, kemampuan berbahasa asing bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar untuk bersaing di pasar kerja internasional.
Laporan World Economic Forum (2024) menyebutkan bahwa penguasaan multi-bahasa meningkatkan peluang karier hingga 35% dan memperluas jejaring profesional lintas negara. Bahasa asing juga menjadi senjata strategis bagi generasi muda untuk mengakses pendidikan, bisnis, hingga diplomasi di tingkat global.
Pentingnya menguasai bahasa asing juga terlihat dari meningkatnya permintaan tenaga kerja dengan kemampuan bilingual atau trilingual, terutama di sektor teknologi, pendidikan, pariwisata, dan diplomasi.
Misalnya, data LinkedIn Global Skills Report 2023 menunjukkan bahwa perusahaan multinasional kini memprioritaskan kandidat yang mampu berkomunikasi dalam bahasa kedua atau ketiga, karena hal tersebut mempercepat kolaborasi internasional dan meminimalisir hambatan komunikasi lintas budaya.
Di kawasan Asia Tenggara, kebutuhan penguasaan bahasa asing semakin mendesak seiring berkembangnya integrasi ekonomi ASEAN.
Melansir dari berbagai sumber, selain bahasa Inggris yang sudah umum, negara-negara ASEAN kini mulai mengakui pentingnya Bahasa Arab sebagai bahasa global yang menghubungkan perdagangan, bisnis, hingga akses beasiswa ke Timur Tengah.
Dalam konteks inilah Indonesia melalui berbagai institusi pendidikan semakin aktif menghadirkan metode pembelajaran yang efektif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Arabic Lingual Center Indonesia (ARLIC) resmi mengukuhkan dirinya sebagai pelopor inovasi pendidikan bahasa di Asia Tenggara.
Dalam Simposium Internasional Bahasa Arab yang digelar di Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Brunei Darussalam, Selasa (18/11), Arlic tampil bukan hanya sebagai delegasi, melainkan sebagai aktor strategis dalam perumusan standar baru pembelajaran Bahasa Arab di kawasan ASEAN.
Bertema “Desain Buku Ajar Bahasa Arab bagi Siswa Asia Tenggara” ini merupakan hasil kolaborasi segitiga antara UNISSA (Brunei), Arlic (Indonesia), dan IMLA (Ikatan Pengajar Bahasa Arab se-Indonesia).
Dalam forum ilmiah tersebut, Senior Advisor Arlic, Prof. Abdul Karim Awad Hayaza, memperkenalkan metode unggulan Serial Allisan, sebuah pendekatan pembelajaran organik yang meniru cara anak-anak mempelajari bahasa ibu.
“Kami membawa pengalaman belajar sebagaimana seorang anak menguasai bahasa ibunya. Melalui struktur yang bertahap namun aktif, pembelajar non-Arab terbukti mampu berbicara lancar dan percaya diri dengan lahjah yang natural hanya dalam waktu 150 jam,” ujar Prof. Karim di hadapan perwakilan akademisi dari Brunei, Malaysia, dan Thailand.
Metode ini menyasar kemampuan berbicara aktif dan natural bagi pembelajar non-Arab. Keunggulan metode ini diperkuat dengan ekosistem teknologi yang mencakup modul cetak terstandarisasi, aplikasi e-modul interaktif, hingga kurikulum berbasis kompetensi.
Tiga Kesepakatan Besar ASEAN
Delegasi Arlic yang dipimpin Direktur Alwi Achmad Shahab menghasilkan tiga keputusan strategis untuk masa depan pembelajaran Bahasa Arab di Asia Tenggara:
1. Pembentukan Badan Penelitian Regional yang berfokus pada pengembangan materi ajar berbasis riset.
2. Penyusunan kerangka buku ajar regional guna menyelaraskan kurikulum modern yang relevan dengan konteks sosial-budaya Asia Tenggara.
3. Penguatan jejaring lembaga pengembangan bahasa di seluruh ASEAN.
“Ini adalah momen bersejarah. Setelah lima tahun memperkuat fondasi di Indonesia, Arlic kini siap membawa ‘Merah Putih’ sebagai rujukan utama inovasi Bahasa Arab di Asia Tenggara,” tegas Alwi Achmad Shahab.
Inovasi Arlic menarik perhatian langsung Rektor UNISSA, Dato Seri Setia Dr. Haji Norarfan bin Haji Zainal, yang melihat demonstrasi metode Allisan di booth pameran yang dipandu Manajer Arlic, Adam Heckel Quidayan.
Minat serius bekerja sama dalam implementasi Serial Allisan di Brunei, penyelenggaraan Arabic Camp, Training of Trainers, hingga program imersi mahasiswa ke Timur Tengah. Kunjungan Arlic ditutup dengan pertemuan strategis bersama Duta Besar RI untuk Brunei Darussalam, Prof. Dr. Achmad Ubaedillah.

- Ist
“Bahasa Arab tidak boleh lagi dipandang hanya sebagai bahasa agama. Sudah saatnya kita bangun narasi bahwa Bahasa Arab adalah pintu menuju jaringan ekonomi, karier global, dan peradaban yang luas, setara dengan Bahasa Inggris,” ujar Dubes Achmad.
Inovasi metode pembelajaran ini bisa jadi solusi pendidikan bahasa yang sesuai kebutuhan industri modern. Sudah siap belajar Bahasa Arab selama 150 jam? (udn)
Load more