Penyintas Banjir Aceh Tamiang Bertahan di Huntara, Hidup dari Bantuan Sembako
- Istimewa
Tak hanya keluarga Jali, pasangan Predy Sanjaya dan Tiara juga mengalami nasib serupa. Rumah mereka di Kampung Dalam hilang diterjang banjir bandang dalam waktu singkat.
Predy mengaku kehilangan rumah bukan hal paling menyakitkan baginya. Ia justru terpukul melihat anak-anak menangis kelaparan di pengungsian.
“Saya masih bisa tahan melihat rumah kami terendam banjir. Tapi yang paling tidak sanggup saya dengar adalah tangisan anak-anak di pengungsian. Suara tangisan mereka bersahut-sahutan. Mereka lapar, tapi saat itu bantuan belum ada yang sampai,” ungkap Predy.
Tiara juga mengingat masa-masa sulit saat hari-hari pertama di pengungsian. Selama tiga hari, mereka terpaksa bertahan dengan bahan makanan seadanya.
“Selama tiga hari kami di pengungsian, kami makan apa saja yang ada. Beras yang sudah terendam lumpur kami coba bersihkan, kami saring air banjir agar layak diminum tapi ternyata airnya tetap kotor. Begitupun anak-anak, mereka makan dan minum seperti itu juga. Kami tidak punya pilihan, dari pada mereka kelaparan,” ujar Tiara.
Kini keluarga Predy tinggal di huntara, namun kondisi ekonomi mereka belum pulih. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Predy sesekali mencari pekerjaan serabutan di kota.
“Akibat banjir ini, mata pencaharian saya jadi hilang. Kalau belum ada lagi bantuan datang, saya pergi ke kota Langsa, saya kerjakan apa saja yang bisa saya kerjakan, yang penting bisa untuk beli popok dan susu anak,” kata Predy.
Bantuan sembako yang datang menjadi penopang utama bagi keluarga tersebut, terutama selama Ramadan.
“Alhamdulillah hadirnya bantuan sembako ini sangat membantu kami dalam memenuhi kebutuhan pokok keluarga,” ujar Tiara.
Meski kehilangan rumah dan pekerjaan, para penyintas di Huntara Aceh Tamiang tetap berupaya bertahan demi keluarga dan anak-anak mereka sambil menunggu kondisi kehidupan perlahan pulih kembali. (rpi/dpi)
Load more