Swasembada Pangan Dipertanyakan, Pemerintah Paparkan Data Produksi hingga Stok Beras
- Istimewa
tvOnenews.com - Polemik terkait klaim swasembada pangan Indonesia kembali mencuat di ruang publik. Sejumlah narasi bahkan menyebut capaian tersebut tidak berdasar.
Menanggapi hal itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian memaparkan sejumlah data resmi untuk menjelaskan kondisi terkini sektor pangan nasional. Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah, menegaskan bahwa klaim swasembada tidak disampaikan tanpa dasar.
“Ini bukan retorika, bukan klaim kosong, melainkan angka-angka resmi dari lembaga negara yang kredibel dan terbuka,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (22/4).
Luas Panen dan Produksi Meningkat
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan luas panen padi pada 2025 mencapai 11,32 juta hektare, meningkat 12,69 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi padi dalam bentuk gabah kering panen (GKP) juga mengalami kenaikan menjadi 71,95 juta ton atau naik 13,29 persen secara tahunan.
Menurut Andi, peningkatan ini tidak lepas dari strategi intensifikasi pertanian yang dilakukan pemerintah.
“Peningkatan produksi ini merupakan hasil dari intensifikasi pertanian, mulai dari peningkatan indeks pertanaman, perbaikan irigasi, hingga pemanfaatan teknologi,” katanya.
Surplus Produksi Beras
BPS memproyeksikan produksi beras nasional 2025 mencapai sekitar 34,77 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi berada di kisaran 31,1 juta ton per tahun. Dengan angka tersebut, pemerintah menyebut terdapat surplus produksi beras secara nasional.
Impor Beras Medium Dihentikan
Pemerintah juga menyampaikan bahwa sepanjang 2025 tidak ada impor beras medium untuk konsumsi masyarakat.
“Impor beras medium yang tercatat di awal 2025 merupakan sisa kontrak tahun sebelumnya, bukan kebijakan impor baru,” jelas Andi.
Ia menambahkan bahwa impor yang masih berjalan hanya untuk beras premium atau kebutuhan industri tertentu.
Stok Beras Bulog Tertinggi
Sementara itu, Perum Bulog mencatat stok beras per 18 April 2026 mencapai sekitar 4,95 juta ton. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa stok tersebut dapat diverifikasi secara langsung.
“Stok ini tersimpan secara fisik di ribuan gudang di seluruh Indonesia dan terbuka untuk diperiksa publik,” ujarnya.
Menurut dia, Bulog bahkan membuka akses bagi masyarakat dan akademisi untuk melihat langsung kondisi cadangan beras pemerintah.
Load more