Peringati Hari Museum Internasional, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Dorong Museum sebagai Penggerak Ekonomi Budaya
- Istimewa
“Museum harus menjadi tempat di mana cultural capital dikembangkan menjadi public value dan economic value secara berkelanjutan. Tanpa institusi pengetahuan yang hidup, industri dan produk budaya akan kehilangan akar dan mudah menjadi dangkal,” ujar Menbud.
Menbud menjelaskan bahwa valorisasi museum dan situs budaya menjadi agenda penting. Valorisasi, menurutnya, bukan komersialisasi yang dangkal, melainkan upaya memberi nilai lebih luas bagi museum dan situs budaya, baik dalam aspek pengetahuan, pendidikan, narasi, akses publik, diplomasi, maupun keberlanjutan pembiayaan.
Ia juga menyoroti praktik internasional yang menunjukkan kekuatan ekonomi museum. Di Amerika Serikat, museum menopang lebih dari 726 ribu pekerjaan dan berkontribusi sekitar 50 miliar dolar AS setiap tahun bagi perekonomian nasional. Di Kanada, museum menghasilkan manfaat sosial tahunan mencapai 8,6 miliar dolar AS. Di Belanda, Museumkaart telah mendorong 9,6 juta kunjungan museum per tahun dengan akses ke lebih dari 500 museum dalam satu jaringan nasional.
Dalam konteks Indonesia, Menbud menegaskan bahwa pembentukan Museum dan Cagar Budaya (MCB) sebagai Badan Layanan Umum merupakan langkah strategis. Sebagai BLU, MCB memiliki ruang untuk membangun model layanan yang lebih adaptif, mengembangkan pemanfaatan aset, memperkuat kemitraan, serta menciptakan pendapatan berkelanjutan yang dikembalikan untuk konservasi, riset, edukasi publik, kualitas layanan, dan pelindungan warisan budaya.
“Ekonomi budaya yang sehat adalah ekonomi yang sirkular; mengembalikan nilai kepada komunitas, kepada pelaku budaya, kepada regenerasi, dan kepada keberlanjutan warisan itu sendiri. Inilah yang membedakan ekonomi budaya yang berkelanjutan dari komersialisasi yang dangkal,” jelas Menbud.
Hingga April 2026, Kementerian Kebudayaan mencatat Indonesia memiliki 516 museum yang tersebar di berbagai daerah. Dari jumlah tersebut, 373 museum (72,3%) telah teregistrasi, sementara 234 museum (45,3%) telah terstandarisasi.
Menurut Menbud, angka tersebut menjadi baseline penting bagi kebijakan permuseuman. Ke depan, agenda permuseuman Indonesia harus mencakup penguatan registrasi, standardisasi, kapasitas konservasi, tata kelola koleksi, literasi sejarah, akses publik, keamanan koleksi, riset provenance, digitalisasi, serta penguatan mutu dan dampak museum bagi publik.
“Kita ingin ekosistem permuseuman Indonesia tumbuh bukan hanya dalam jumlah, tetapi juga dalam mutu, relevansi, dan dampaknya bagi masyarakat,” ujar Menbud.
Load more