Jejak Fredy Pratama, Gembong Narkoba Paling Diburu di Indonesia: Diduga Terkait Jaringan Sabu 128,7 Kg yang Digagalkan Polda Kalsel
- Kolase tim tvOnenews
Siapa Sebenarnya Fredy Pratama?
Fredy Pratama merupakan warga negara Indonesia asal Kalimantan Selatan yang dikenal luas sebagai salah satu buronan narkotika terbesar di Asia Tenggara.
Menurut keterangan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Fredy telah meninggalkan Indonesia sejak 2014. Ia diduga mengendalikan jaringan penyelundupan narkoba dari kawasan Segitiga Emas (Golden Triangle) menuju Indonesia melalui Malaysia dan sejumlah negara transit lainnya.
- Istimewa
Segitiga Emas sendiri merupakan wilayah yang mencakup sebagian Myanmar, Laos, Thailand, dan China Selatan. Kawasan ini selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pusat produksi narkotika terbesar dunia.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Mukti Juharsa pernah menjelaskan bahwa Fredy memiliki hubungan keluarga dengan warga Thailand. Bahkan, mertuanya diduga merupakan bagian dari jaringan kartel narkotika di kawasan tersebut.
Dari sanalah Fredy disebut memperoleh pasokan sabu yang kemudian didistribusikan ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Julukan "Cassanova" melekat pada dirinya. Selain dikenal licin dalam menghindari aparat, Fredy juga disebut kerap berpindah negara dan menggunakan berbagai identitas berbeda untuk mengaburkan jejak.
Operasi Escobar dan Besarnya Jaringan Fredy
Melansir dari berbagai sumber, nama Fredy Pratama semakin mencuat setelah Polri meluncurkan Operasi Escobar pada 2023. Operasi ini menjadi salah satu upaya terbesar dalam membongkar jaringan narkoba internasional yang diduga dipimpinnya.
Kabareskrim Polri saat itu, Komjen Pol Wahyu Widada, mengungkapkan bahwa selama periode 2020 hingga 2023 terdapat sedikitnya 408 laporan polisi yang memiliki keterkaitan dengan jaringan Fredy Pratama.
Dari rangkaian pengungkapan tersebut, aparat berhasil menyita lebih dari 10 ton sabu. Jumlah itu menunjukkan besarnya skala operasi yang dijalankan jaringan tersebut.
Polri bekerja sama dengan Royal Malaysia Police, Royal Thai Police, Royal Malaysian Customs Department, hingga Drug Enforcement Administration (DEA) Amerika Serikat untuk memburu jaringan Fredy.
Hasilnya, sebanyak 884 tersangka berhasil ditangkap dan aset senilai Rp10,5 triliun diduga hasil tindak pidana pencucian uang berhasil disita selama periode 2020-2023.
Tak hanya melibatkan kurir dan pengedar biasa, jaringan Fredy juga menyeret sejumlah nama yang mengejutkan publik.
Load more