Festival Literasi Parlemen 2026: Literasi Budaya, Perkuat Demokrasi
- ANTARA
Ia juga menegaskan bahwa sebagai rumah rakyat, DPR RI memiliki tanggung jawab untuk menjaga kualitas demokrasi dan memperluas ruang partisipasi masyarakat. Menurutnya, fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan yang dijalankan DPR RI akan semakin efektif apabila didukung masyarakat yang cerdas dan memahami proses kebijakan publik.
Oleh karena itu, Setjen DPR RI terus memperkuat peran Perpustakaan DPR RI sebagai pusat literasi parlemen. Transformasi dilakukan agar perpustakaan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi buku, tetapi juga berkembang menjadi pusat informasi, ruang pembelajaran, inovasi, dan dialog publik.
“Perpustakaan DPR RI kini telah bertransformasi menjadi jembatan pengetahuan. Perpustakaan menjadi pusat informasi yang dinamis, pusat pembelajaran, ruang inovasi, serta ruang dialog terbuka demi melahirkan masyarakat yang kritis dan demokratis,” ungkapnya.
Suprihartini menambahkan, penyelenggaraan Festival Literasi Parlemen merupakan bagian dari komitmen Setjen DPR RI dalam menghadirkan layanan publik yang edukatif dan inklusif. Melalui berbagai kegiatan seperti talkshow, pameran buku, dan workshop kreatif, masyarakat diajak untuk semakin dekat dengan dunia literasi sekaligus memahami pentingnya budaya dalam kehidupan demokrasi.
Lebih lanjut, ia berharap Festival Literasi Parlemen dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperluas wawasan, bertukar gagasan, serta memperkuat kolaborasi dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan.
“Kita berharap Perpustakaan DPR RI dapat menjadi jembatan ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Literasi menjadi salah satu cara agar masyarakat mampu membaca, menyampaikan, mengkritisi, dan mengambil informasi dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan literasi masyarakat menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara teknologi dan ekonomi, tetapi juga bangsa yang masyarakatnya mencintai ilmu pengetahuan, menghormati budayanya, serta matang dalam berdemokrasi.
“Literasi harus menjadi gerakan bersama. Mari kita jadikan literasi sebagai modal utama untuk menjemput impian bersama menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Suprihartini (adv)
Load more