Jadi Inspirasi Kopi, Cublak Suweng Dipuji Wamen Ekraf karena Angkat Budaya Indonesia
- Roemah Koffie.
Jakarta, tvOnenews.com - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Republik Indonesia Irene Umar menilai kekuatan produk kreatif Indonesia tidak hanya terletak pada kualitasnya, tetapi juga pada kemampuan mengangkat cerita dan budaya lokal sebagai nilai tambah. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi strategi untuk meningkatkan daya saing produk nasional di pasar internasional.
Pernyataan itu disampaikan Irene saat mengomentari peluncuran produk kopi premium Cublak Suweng yang digelar Roemah Koffie di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Jakarta.
Irene mengapresiasi langkah pelaku industri kopi yang memadukan produk dengan narasi budaya Indonesia sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi kreatif.
"Indonesia adalah salah satu coffee producer terbesar di dunia. Apa yang dilakukan Roemah Koffie melalui 'Cublak Suweng' ini adalah wujud nyata dari hilirisasi yang luar biasa. Storytelling budaya dan tradisi Indonesia di balik produk ini merupakan unique selling point yang hanya kita miliki. Jika dikemas dengan tepat, narasi seperti ini bisa membawa produk kreatif kita menjadi pemenang di panggung global," ujarnya.
Menurut Irene, pendekatan yang mengangkat identitas budaya lokal memiliki potensi besar untuk memperkuat posisi produk Indonesia di tengah persaingan global. Ia menilai konsumen internasional kini tidak hanya mencari kualitas produk, tetapi juga cerita dan nilai yang melekat di baliknya.
Ia juga menyoroti filosofi permainan tradisional Cublak Suweng yang diangkat sebagai identitas produk tersebut. Bagi Irene, warisan budaya seperti permainan rakyat dapat menjadi media untuk memperkenalkan nilai-nilai Indonesia kepada masyarakat dunia.
"Melalui permainan tradisional Cublak Suweng, kita semua diingatkan untuk tetap 'bermain' dan belajar tanpa memandang usia. Di tengah berbagai tantangan yang ada, spirit untuk terus melangkah demi nama Indonesia dan membawa diplomasi kopi ke ranah internasional harus kita dukung bersama," pungkas Irene.
Produk kopi yang diperkenalkan memadukan biji kopi asal Gayo, Aceh, dan Temanggung, Jawa Tengah. Nama Cublak Suweng diambil dari lagu sekaligus permainan tradisional Jawa yang sarat makna tentang kebersamaan dan kesederhanaan.
CEO Roemah Koffie Felix TJ mengatakan filosofi permainan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam konsep produk yang mengangkat hubungan manusia dengan diri sendiri, sesama, dan alam.
“Dalam kopi Cublak Suweng, filosofi tersebut diresapi menjadi tiga lingkaran yang saling bertautan. Pertama, Inner Circle yaitu relasi personal kita sebagai individu dengan diri sendiri, kedua, Shared Circle yaitu relasi kita dengan sesama, dan terakhir, Eternal Circle yaitu relasi kita dengan alam," jelasnya.
Ia menambahkan perpaduan kopi Gayo dan Temanggung dipilih untuk menghadirkan karakter rasa yang seimbang.
“Karakteristik biji kopi Gayo yang khas bertemu sentuhan karamel, hazelnut, dan cokelat dari biji kopi Temanggung, membuat kopi ini memiliki cita rasa yang seimbang dan harmonis, seperti tiga lingkaran makna tadi. Dengan kurasi rasa ini, kami berharap Cublak Suweng bisa menjadi pintu bagi lebih banyak masyarakat domestik maupun internasional untuk menikmati kopi premium khas Indonesia,” ujar Felix TJ.
Sementara itu, Commercial Director Roemah Koffie Ryo Limijaya mengatakan pengembangan produk tersebut dilakukan untuk merespons meningkatnya minat terhadap kopi premium sekaligus tetap mempertahankan karakter kopi Indonesia.
“Cublak Suweng dirancang agar tetap mempertahankan karakter kopi Indonesia yang kuat, namun memiliki spektrum rasa yang fleksibel. Titik tengah inilah yang membuat Cublak Suweng bisa dinikmati sebagai black coffee maupun dieksplor sebagai base espresso untuk latte dan berbagai kreasi kopi lainnya. Rilisan ini hadir untuk memenuhi kebutuhan para pecinta kopi maupun para pebisnis kopi yang mencari satu base kopi untuk beragam eksplorasi,” jelas Ryo Limijaya. (cmi)
Load more