Zhouzhuang, Venesia dari Timur yang Jadi Ikon Wisata Budaya China
- Freepik/Magnific.
Jakarta, tvOnenews.com - Ketika berlibur ke China, kota-kota seperti Shanghai, Beijing, atau Chongqing masih menjadi destinasi utama wisatawan. Namun, bagi pencinta wisata budaya dan sejarah, ada satu kawasan yang menawarkan pengalaman berbeda, yakni Zhouzhuang, desa air kuno di Provinsi Jiangsu yang dijuluki sebagai "Venesia dari Timur."
Berada di Kota Kunshan, Jiangsu, Zhouzhuang terkenal dengan jaringan kanal yang membelah kawasan permukiman, rumah-rumah tradisional yang masih terawat, serta jembatan batu berusia ratusan tahun. Meski secara administratif masuk wilayah Suzhou, lokasi ini justru lebih mudah dijangkau dari Shanghai dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam melalui jalur darat.
Vice General Manager Century Holiday Travel Group, Ms. Qin Qin, mengatakan Zhouzhuang menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan kota-kota modern di Tiongkok.
"Zhouzhuang bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga tempat untuk merasakan kehidupan masyarakat Tiongkok yang masih mempertahankan budaya dan warisan sejarahnya. Wisatawan dapat menikmati perpaduan antara keindahan alam, arsitektur kuno, serta pengalaman budaya yang autentik," ujar Ms. Qin Qin, di Jakarta, baru-baru ini.
Desa Air yang Tetap Bertahan Selama Ratusan Tahun
Salah satu daya tarik utama Zhouzhuang adalah suasana kota air yang masih terjaga. Kanal-kanal membelah desa dan diapit rumah-rumah bercat putih dengan atap genteng hitam yang telah berdiri sejak era Dinasti Yuan, Ming, hingga Qing.
Lebih dari 800 keluarga masih tinggal di kawasan tersebut. Menariknya, lebih dari 60 persen bangunan hunian tetap mempertahankan bentuk arsitektur aslinya sehingga suasana klasik masih sangat terasa.
Menyusuri jalan-jalan batu sempit di antara kanal memberikan pengalaman seolah kembali ke masa lampau. Ketika malam tiba, lampion merah yang menghiasi bangunan tua berpadu dengan pantulan cahaya di permukaan air, menciptakan panorama yang menjadi daya tarik utama wisatawan.
Menyusuri Kanal dengan Perahu Tradisional
Pengalaman berkunjung ke Zhouzhuang belum lengkap tanpa menaiki perahu kayu tradisional yang dikayuh secara manual. Wisatawan diajak menyusuri kanal-kanal sempit sambil menikmati deretan bangunan kuno dari sudut pandang berbeda.
Pada kesempatan tertentu, pendayung lokal juga menyanyikan lagu rakyat Tiongkok yang membuat suasana perjalanan terasa semakin khas.
Di sepanjang perjalanan, wisatawan akan melewati sejumlah jembatan bersejarah. Salah satu yang paling terkenal adalah Shuangqiao atau Jembatan Kembar yang dibangun pada masa Dinasti Ming. Bentuknya menyerupai kunci tradisional Tiongkok dan menghubungkan dua aliran sungai yang saling bersilangan.
"Keindahannya telah menginspirasi banyak seniman serta menjadi salah satu objek fotografi paling populer di Zhouzhuang," jelas Lu Guilin, Marketing Director of Zhou Zhuang Culture & Tourism Group.
Selain Shuangqiao, terdapat pula Jembatan Fu'an, yang dikenal sebagai jembatan batu tertua di Zhouzhuang dengan bangunan-bangunan tradisional di kedua sisinya, serta Jembatan Fuhong yang menjadi salah satu titik favorit wisatawan untuk menikmati panorama kanal.
Menjelajah Rumah Bangsawan Dinasti Qing
Tak hanya kanal dan jembatan, Zhouzhuang juga memiliki sejumlah bangunan bersejarah yang kini dibuka untuk umum.
Salah satunya adalah Shen's Mansion, kediaman megah yang dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Qianlong dari Dinasti Qing. Rumah tersebut pernah menjadi tempat tinggal salah satu saudagar terkaya di kawasan selatan Sungai Yangtze.
Bangunan ini memiliki tata ruang khas Dinasti Qing dengan tujuh halaman utama, gerbang bata berukir, simbol-simbol keberuntungan, hingga dermaga pribadi yang langsung terhubung ke kanal.
Tak jauh dari sana terdapat Zhang House, rumah tradisional yang menampilkan kehidupan keluarga bangsawan Tiongkok pada masa lampau melalui taman, lorong batu, dan puluhan ruang yang masih dipertahankan keasliannya.
Menurut Lu Guilin, kekuatan utama Zhouzhuang terletak pada perpaduan antara warisan budaya dan kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi.
"Perpaduan antara wisata budaya, sejarah, arsitektur, kuliner, hingga wisata air menjadikan kawasan ini memiliki potensi besar sebagai destinasi heritage bertaraf internasional," tambah Lu Guilin.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana lebih nyaman, musim semi dan musim gugur menjadi waktu yang paling direkomendasikan karena cuaca cenderung sejuk dan kondisi desa berada pada pemandangan terbaiknya.
Sementara itu, bagi wisatawan Indonesia, akses menuju Zhouzhuang dinilai cukup mudah. Perjalanan dapat dimulai melalui penerbangan menuju Shanghai, kemudian dilanjutkan menggunakan bus, kereta, atau kendaraan pribadi menuju Kunshan.
"Kemudian akses menuju Zhouzhuang relatif mudah bagi wisatawan internasional, termasuk dari Indonesia. Lokasinya strategis dekat Shanghai yang menjadi tujuan wisata paling terkenal di Tiongkok. Perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan bus, kereta, ataupun kendaraan pribadi menuju Kunshan dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam," pungkas Qin-Qin. (cmi)
Load more