AI Hancurkan Jutaan Buku Langka, Praktik Digitalisasi Ini Picu Perdebatan
- Unsplash/ Gülfer ERGİN
Jakarta, tvOnenews.com – Di balik kecanggihan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI), muncul perdebatan baru yang menyentuh dunia literasi dan pelestarian pengetahuan.
Sejumlah dokumen pengadilan yang dibuka ke publik mengungkap bahwa perusahaan AI Anthropic membeli jutaan buku fisik, memotong jilidnya, memindai setiap halaman, lalu membuang sisa bukunya setelah proses digitalisasi selesai untuk dijadikan data pelatihan model AI Claude.
Praktik tersebut dikenal sebagai destructive scanning atau pemindaian destruktif. Metode ini sebenarnya telah lama digunakan dalam industri digitalisasi massal karena jauh lebih cepat dibanding memindai buku satu per satu tanpa merusaknya.
Namun, ketika dilakukan dalam skala jutaan eksemplar untuk melatih AI, praktik tersebut memicu pertanyaan baru mengenai etika, hak cipta, hingga pelestarian warisan budaya.
Kontroversi ini mencuat setelah The Washington Post mengungkap isi dokumen internal Anthropic yang menjadi bagian dari gugatan hak cipta terhadap perusahaan tersebut.
Dalam dokumen itu, Anthropic menjalankan proyek berkode "Project Panama", yang secara internal disebut sebagai upaya untuk melakukan destructive scanning terhadap sebanyak mungkin buku guna memperoleh data berkualitas tinggi untuk melatih model AI.
Dokumen tersebut bahkan menyebut perusahaan ingin menjaga proyek itu agar tidak diketahui publik.
Menurut dokumen pengadilan, Anthropic menghabiskan puluhan juta dolar AS untuk membeli buku-buku bekas dalam jumlah besar.
Setelah itu, buku dipotong pada bagian punggungnya agar setiap halaman dapat dipindai menggunakan mesin berkecepatan tinggi. Setelah proses digitalisasi selesai, buku fisik dibuang atau didaur ulang karena tidak lagi diperlukan.
Di awal perkembangan AI generatif, banyak perusahaan memanfaatkan data dari internet untuk melatih large language models.
Namun, internet kini semakin dipenuhi konten yang dihasilkan AI sendiri. Para peneliti menyebut kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas model karena AI belajar dari teks yang juga dibuat AI, sebuah fenomena yang dikenal sebagai model collapse.
Karena itu, perusahaan AI mulai mencari sumber data yang dianggap masih bersih, yaitu buku-buku yang ditulis manusia sebelum ledakan AI generate. Buku dinilai memiliki kualitas bahasa yang tinggi, telah melalui proses penyuntingan, dan mencakup beragam topik.
Load more