Keren, Italia Bidik Garut Jadi Pusat Industri Mode dan Kulit
- IFW.
Jakarta, tvOnenews.com - Di balik sorotan lampu runway Indonesia Fashion Week (IFW) 2026, sebuah percakapan penting tentang masa depan industri mode, kulit, dan alas kaki berlangsung di Creative Stage. Pertemuan tersebut mempertemukan pelaku industri dari Indonesia dan Italia dalam rangkaian misi dagang yang membahas peluang kolaborasi, transfer teknologi, hingga penguatan ekosistem fesyen berbasis kerajinan dan manufaktur.
Misi tersebut diprakarsai oleh Italian Trade Agency (ITA) Jakarta Trade Office bersama ASSOMAC, Assocalzaturifici, dan SACE. Dari pihak Indonesia, hadir perwakilan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), serta sejumlah kementerian yang membidangi perdagangan, industri, dan UMKM.
Pertemuan di IFW 2026 menjadi kelanjutan dari kunjungan delegasi Italia ke sentra penyamakan kulit Garut, Jawa Barat, yang dilakukan beberapa hari sebelumnya. Garut dipandang sebagai salah satu kawasan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat industri kulit dan fesyen yang terintegrasi.
Direktur Jenderal ASSOMAC sekaligus pemimpin delegasi Italia, Agostino Apolito, menyampaikan bahwa pihaknya melihat peluang membangun kawasan industri mode dan kulit yang menghubungkan manufaktur, pariwisata, budaya, serta investasi.
“Garut berpotensi menjadi laboratorium teritorial bagi kemitraan industri Italia–Indonesia sebagai sebuah distrik mode dan kulit yang memadukan peluang dari CEPA, ambisi pertumbuhan tinggi, standar internasional, dan identitas lokal. Ini bukan sekadar transfer mesin, melainkan membangun ekosistem industri secara utuh, mulai dari teknologi, keterampilan, kelembagaan, hingga investasi,” kata Agostino Apolito, saat gelaran IFW 2026, di JICC Senayan, Jakarta.
Dalam sesi lain, perhatian tertuju pada bagaimana sepatu kini dipandang sebagai bagian dari identitas budaya dan gaya hidup. Matteo Scarparo, Head of Global Trade Assocalzaturifici sekaligus perwakilan MICAM Milano, memperkenalkan kampanye terbaru bertajuk Shoes First yang menempatkan alas kaki sebagai elemen utama dalam narasi fesyen.
“Sepatu bukan lagi sekadar barang terakhir yang dikenakan seseorang, melainkan hal pertama yang diingat orang lain. Ubah sepatunya, ubah pula ceritanya. itulah semangat yang ingin kami bawa dalam setiap dialog dengan mitra baru, termasuk Indonesia,” kata Matteo Scarparo.
Ia juga menyinggung pencalonan The Art of Italian Footwear sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, yang apabila disetujui akan menjadi pengakuan pertama di dunia untuk sektor kerajinan alas kaki.
Dari sisi perdagangan, Relationship Manager SACE untuk Asia Tenggara dan Oseania, Cristina Colussi, mengungkapkan bahwa ekspor Italia ke Indonesia mencapai 2,25 miliar euro pada 2025, meningkat sekitar 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sektor mode, termasuk mesin manufaktur, tekstil, dan kulit, menjadi salah satu kontributor penting dalam pertumbuhan tersebut.
“Indonesia adalah salah satu pasar pertumbuhan paling dinamis di Asia Tenggara bagi ekspor Italia. Basis manufaktur tekstil, kulit, dan alas kaki di sini menciptakan permintaan nyata terhadap teknologi dan material dari Italia, dan prioritas lokal ini sejalan dengan keunggulan Italia di bidang mesin, material, dan pengetahuan industri,” kata Cristina Colussi.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Jawa Barat APRISINDO, Henny Setiadi, menilai kolaborasi lintas negara menjadi kesempatan untuk meningkatkan daya saing industri alas kaki nasional.
“Kolaborasi dengan mitra Italia membuka peluang bagi pelaku industri alas kaki dan kulit Indonesia untuk naik kelas — baik dari sisi teknologi, standar kualitas, maupun akses pasar global. Kekayaan budaya dan keragaman alam Indonesia adalah modal besar yang bisa kami padukan dengan keunggulan teknologi dan jejaring Italia,” kata Henny Setiadi. (cmi)
Load more