Mendikdasmen Bongkar Keterampilan yang Paling Dibutuhkan 5 Tahun ke Depan
- AYIMUN.
Tema konferensi tahun ini, “Securing the Digital Future: Protecting Societies and Empowering the Next Generation”, mengangkat isu perlindungan masyarakat di era digital serta pemberdayaan generasi muda menghadapi tantangan teknologi. Peserta berdiskusi dalam dua dewan utama, yaitu UNICEF dengan tema “Ensuring Quality Education for Every Child” dan UNODC dengan tema “Mitigating the Worst Impacts of Illicit Online Activities: Illegal Gambling and Cybercrime”.
Presiden International Global Network, Muhammad Fahrizal, menilai tantangan terbesar di era digital bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga kualitas manusia yang menggunakannya.
“Kita sering berpikir bahwa mengamankan masa depan digital kita hanya bergantung pada kata sandi yang lebih kuat, kecerdasan buatan, atau sistem keamanan siber. Padahal, meskipun teknologi tentu menjadi bagian dari solusi, fondasi utama dari masa depan digital yang aman bukanlah teknologinya semata, melainkan manusianya. Di era digital saat ini, misinformasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik, kecerdasan buatan terus berkembang, ancaman siber semakin canggih, dan perbedaan pendapat dapat memecah belah masyarakat dalam waktu yang sangat singkat," bebernya.
"Tantangan terbesar kita bukan lagi sekadar memiliki akses terhadap informasi, melainkan mengetahui bagaimana cara mempertanyakannya, melakukan verifikasi, dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Karena itulah berpikir kritis menjadi firewall terkuat yang kita miliki. Empati menjadi pertahanan kita terhadap kebencian di dunia maya. Kemampuan berkomunikasi menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai perbedaan. Kerja sama memungkinkan kita menyelesaikan berbagai tantangan global bersama-sama. Dan ketangguhan membuat kita mampu beradaptasi di dunia yang tidak pernah berhenti berubah. Semua itu bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan keterampilan hidup. Melalui Model United Nations, kalian akan mengalami semua itu secara langsung," tambahnya.
Selama dua hari penyelenggaraan, peserta mengikuti simulasi sidang diplomasi, negosiasi, dan penyusunan draft resolution yang dirancang menyerupai proses sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa. (cmi)
Load more