Menkes Budi Sebut DNA Bakal Ubah Dunia Kesehatan, Ini yang Sedang Disiapkan Indonesia
- Kemenkes
Jakarta, tvOnenews.com - Perkembangan teknologi kedokteran berbasis genomik dan terapi sel mulai membuka babak baru dalam penanganan berbagai penyakit, termasuk kanker.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menilai Indonesia perlu mempersiapkan ekosistem kesehatan agar perkembangan bioteknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional.
Menurut Budi, perkembangan pengobatan masa depan tidak dapat dilepaskan dari pemanfaatan data biologis dan genomik. Teknologi tersebut memungkinkan tenaga kesehatan memahami karakteristik penyakit secara lebih mendalam, sehingga pendekatan pencegahan, diagnosis, maupun terapi dapat semakin disesuaikan dengan kondisi pasien.
"Tugas utama saya sebagai Menteri Kesehatan adalah memfasilitasi sektor industri agar siap menyambut gelombang bioteknologi baru, yang bersumber dari penemuan elemen fundamental kehidupan, yakni DNA," ujar Menkes berbicara di forum ilmiah Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).
"Kita harus terus merangkul sains demi mewujudkan ketahanan kesehatan nasional. Indonesia saat ini telah memiliki dua basis data tingkat populasi yang mencakup 280 juta jiwa, dan melalui pembangunan BGSI (Biomedical and Genome Science Initiative) yang diinisiasi pada tahun 2022, kita bersama-sama membangun basis data tingkat populasi yang ketiga, yaitu basis data genomik," sambungnya.
Pembangunan basis data genomik melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) menjadi salah satu langkah yang ditempuh pemerintah untuk memperkuat fondasi kedokteran presisi di Indonesia. Data tersebut diharapkan dapat membantu pengembangan riset serta pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik penyakit pada populasi Indonesia.
Kebutuhan terhadap pendekatan baru tersebut semakin besar seiring meningkatnya beban penyakit, terutama kanker. Data Global Cancer Observatory dari International Agency for Research on Cancer (IARC) mencatat sekitar 408.661 kasus baru kanker dan 242.099 kematian akibat kanker di Indonesia pada 2022.
Secara global, World Health Organization (WHO) dalam Global Status Report on Cancer 2026 memperkirakan kasus baru kanker dapat mencapai hampir 35 juta kasus per tahun pada 2050. Kondisi ini membuat penguatan pencegahan, deteksi dini, diagnosis, hingga pengembangan terapi yang lebih tepat menjadi semakin penting.
Selain genomik, perkembangan terapi sel dan gen juga menjadi perhatian. Dalam satu dekade terakhir, hampir 50 terapi sel dan gen telah memperoleh persetujuan dari U.S. Food and Drug Administration (FDA). Salah satu teknologi yang berkembang adalah CRISPR/Cas9, yang sebelumnya banyak digunakan dalam penelitian dasar dan kini mulai diterapkan dalam terapi yang telah memperoleh persetujuan regulator.
Load more