Bagaimana Kecerdasan Buatan Membantu Menjaga Keandalan Jaringan Listrik di Era Energi Terbarukan?
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Indonesia Bersiap Mengelola Jaringan yang Lebih Kompleks
Kebutuhan terhadap sistem analitik terpadu semakin relevan seiring rencana pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Pada 25 Agustus 2026, pemerintah meluncurkan program PLTS 100 GWp yang diawali 14 proyek di enam provinsi dengan kapasitas total 5,3 GWp. Presiden Prabowo Subianto menargetkan program tersebut dapat direalisasikan dalam tiga tahun.
Pertambahan pembangkit surya dalam skala besar akan membuat pengelolaan data performa pembangkit, kondisi jaringan dan sistem penyimpanan energi semakin penting. PLN sebelumnya juga telah mengembangkan Nusantara InnoVision Center untuk pemantauan dan pengendalian operasional pembangkit secara real-time.
"Ambisi energi Indonesia patut didukung teknologi yang dirancang sesuai kebutuhan Indonesia. Kami ingin bekerja bersama para insinyur setempat untuk mengubah data operasional menjadi keputusan praktis, memperkuat infrastruktur vital, serta membangun kapabilitas yang dapat terus dikembangkan secara mandiri oleh tim Indonesia," ujar ujar Gibert Espinosa, CEO Kayak Analytics.
Pernyataan tersebut mencerminkan salah satu tantangan terbesar dalam digitalisasi sistem kelistrikan: teknologi bukan hanya harus mampu membaca data, tetapi juga harus dapat digunakan dan dipahami oleh tim yang mengelola aset di lapangan.
Karena itu, penerapan AI pada jaringan listrik sebaiknya tidak dilihat sekadar sebagai upaya mengganti pekerjaan manusia. Fungsi yang lebih penting adalah membantu insinyur menyaring data dalam jumlah besar, menemukan pola risiko lebih dini, dan memperoleh dasar yang lebih kuat untuk menentukan prioritas pemeriksaan maupun pemeliharaan.
- ist
Pada akhirnya, semakin terhubungnya jaringan listrik Indonesia akan membuat kemampuan mengelola data menjadi bagian penting dari keandalan sistem. Pengalaman negara seperti Inggris memperlihatkan bagaimana AI mulai diarahkan untuk membantu pengelolaan aset secara lebih terpadu.
Bagi Indonesia, tantangannya adalah membangun sistem yang mampu menghubungkan data dari berbagai jenis pembangkit dan peralatan, sekaligus memastikan pengelolaan data, keahlian teknis dan pengambilan keputusan tetap berada dalam kerangka operasional yang jelas.
Dengan begitu, AI dapat berfungsi sebagai alat pendukung untuk mengenali risiko lebih awal ketika sistem kelistrikan nasional terus berkembang. (udn)
Load more