Makanan Terbuang di Jakarta Capai 175 Ribu Ton, Begini Cara Mengurangi Food Waste dari Rumah
- Gambar ilustrasi AI
tvOnenews.com - Food waste atau makanan yang terbuang masih menjadi persoalan serius di tengah kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang cukup dan bergizi.
Tidak sedikit bahan makanan berakhir di tempat sampah karena dibeli berlebihan, disimpan secara tidak tepat, atau terlambat diolah.
Padahal, kebiasaan sederhana dalam mengatur persediaan dan menyimpan makanan dapat membantu mengurangi pemborosan sekaligus menghemat pengeluaran rumah tangga.
Mengurangi food waste bisa dimulai dari dapur. Masyarakat dapat membuat daftar belanja sesuai kebutuhan, memeriksa persediaan sebelum membeli bahan makanan, serta memasak berdasarkan jumlah anggota keluarga.
Bahan pangan yang mudah rusak juga perlu disimpan sesuai karakteristiknya. Penggunaan wadah tertutup, pemberian label tanggal penyimpanan, dan pemanfaatan freezer dapat membantu menjaga kualitas makanan lebih lama.
Praktik serupa diterapkan melalui edukasi di sejumlah negara maju. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menganjurkan masyarakat merencanakan menu mingguan, menyimpan bahan pangan secara tepat, dan mengolah kembali sisa makanan.
Sementara itu, pemerintah Inggris menyarankan makanan matang yang tidak segera dikonsumsi untuk didinginkan dan dimasukkan ke lemari pendingin dalam waktu satu hingga dua jam.
Food Waste Bukan Sekadar Masalah Sampah, tetapi Juga Ketahanan Pangan
Persoalan makanan terbuang memiliki dampak lebih luas daripada sekadar menambah volume sampah. Setiap bahan pangan yang dibuang juga berarti sumber daya untuk memproduksinya ikut terbuang, mulai dari air, energi, lahan pertanian, hingga biaya distribusi.
Ketika makanan yang masih layak konsumsi tidak dimanfaatkan, kesempatan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat juga ikut hilang.
Gambaran persoalan tersebut terlihat di Uni Eropa. Data Eurostat yang dipublikasikan pada September 2026 mencatat sekitar 57,9 juta ton food waste sepanjang 2024 atau setara 129 kilogram per penduduk. Rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 53 persen, sekitar 69 kilogram per orang. Sektor restoran dan jasa makanan menyumbang 12 persen.
Persoalan ini juga memiliki dimensi sosial. Komisi Eropa mencatat sekitar 8,5 persen penduduk Uni Eropa tidak mampu membeli makanan berkualitas yang mencakup daging, ikan, atau alternatif vegetarian setiap dua hari. Kondisi tersebut memperlihatkan ironi ketika sebagian pangan terbuang, sementara sebagian masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan makanan bergizi.
Di Amerika Serikat, EPA memperkirakan sekitar sepertiga makanan yang diproduksi tidak dikonsumsi. Pemborosan tersebut turut menghabiskan sumber daya alam dan meningkatkan dampak lingkungan. Karena itu, pengurangan food waste menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi ekonomi.
Persoalan serupa terjadi di Indonesia. Kajian Badan Pangan Nasional pada 2025 mencatat sekitar 175.415 ton sisa pangan dan sampah makanan dari sektor hotel, ritel, usaha makanan dan minuman, serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lima kota administrasi DKI Jakarta.
Dari jumlah tersebut, sekitar 53.495 ton atau 30,5 persen masih berpotensi diselamatkan. Bahkan, sekitar 5.303 ton berpotensi didonasikan atau dipulihkan. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian pangan terbuang bukan semata-mata karena tidak layak konsumsi, melainkan juga akibat pengelolaan dan distribusi yang belum optimal.
Cara Menyimpan dan Mengelola Makanan agar Tidak Terbuang
Salah satu penyebab food waste di rumah tangga adalah pengelolaan persediaan yang kurang teratur. Masyarakat kerap membeli bahan makanan dalam jumlah besar karena tergiur promosi, tetapi tidak memperhitungkan kebutuhan dan kapasitas penyimpanan.
EPA Amerika Serikat merekomendasikan masyarakat memeriksa isi lemari pendingin sebelum berbelanja, membuat daftar kebutuhan, serta mengelompokkan bahan makanan berdasarkan karakteristik penyimpanannya. Sayuran berdaun, misalnya, membutuhkan kondisi berbeda dari buah yang menghasilkan gas etilen seperti pisang dan apel.
Masyarakat juga perlu memahami perbedaan label best before dan use by. Label pertama berkaitan dengan kualitas produk, sedangkan label kedua menunjukkan batas keamanan konsumsi. Pemerintah Inggris menegaskan makanan yang melewati tanggal use by tidak boleh dikonsumsi meskipun tampilan dan aromanya masih terlihat normal.
Untuk makanan matang, Food Standards Agency Inggris menyarankan agar sisa masakan segera didinginkan dan dimasukkan ke lemari pendingin dalam waktu satu hingga dua jam. Suhu lemari pendingin idealnya berkisar 0–5 derajat Celsius. Makanan sisa sebaiknya dikonsumsi dalam 48 jam atau dibekukan apabila belum akan digunakan.
Kebiasaan lain yang dapat diterapkan adalah memasak sesuai kebutuhan dan mengolah kembali bahan pangan yang masih layak. Sayuran sisa bisa dijadikan sup atau tumisan, sedangkan buah yang terlalu matang dapat diolah menjadi jus. Dengan pengelolaan lebih terencana, bahan pangan dapat dimanfaatkan sebelum menjadi sampah.
Food Rescue, Mengubah Surplus Pangan Menjadi Manfaat
Ketika surplus pangan sudah terlanjur terjadi, penyelamatan pangan atau food rescue dapat menjadi alternatif. Konsep ini dilakukan dengan mengumpulkan bahan makanan berlebih yang masih aman dikonsumsi, memeriksa kelayakannya, kemudian mengolah atau menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan.
Praktik tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha makanan, komunitas, hingga perusahaan. Salah satu contohnya adalah kegiatan Cooking for Impact - Masak Bersama Berdampak yang melibatkan SHINPO dan FoodCycle Indonesia di FoodCycle Hub Matraman, Jakarta Timur, pada 4 November 2026.
Belasan karyawan PT Sahabat Intim Plasindo selaku produsen ikut menjadi relawan. Mereka membantu menyortir bahan pangan, memasak, mengemas, hingga mendistribusikan makanan siap santap. Hasil kegiatan berupa ratusan porsi makanan disalurkan kepada Yayasan Al Islah yang menaungi lansia dan anak yatim di Jakarta Timur.
Keterlibatan perusahaan merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.
“Melalui kolaborasi ini, tim kami tidak hanya memberikan dukungan, tetapi ikut turun langsung sebagai relawan. Kami ingin menunjukkan bahwa selain mengurangi sampah plastik sekali pakai, kepedulian lingkungan juga dapat dimulai dari hal sederhana lainnya, termasuk menghargai pangan, mengurangi yang terbuang, dan membagikan manfaatnya kepada mereka yang membutuhkan,” ujar Marketing Manager SHINPO, Livia Halim.
CEO sekaligus Co-Founder FoodCycle Indonesia, Astrid Paramita, menyambut keterlibatan para relawan. Menurutnya, penyelamatan pangan membutuhkan kontribusi banyak pihak agar surplus makanan dapat memberikan manfaat lebih luas.
Sepanjang 2026, program Masak Bersama Berdampak telah menghasilkan sedikitnya 7.000 porsi makanan dengan melibatkan 2.280 relawan.
Selain tenaga relawan, PT Sahabat Intim Plasindo turut memberikan wadah penyimpanan Donatsu dan Sorento serta container box untuk membantu proses penyortiran, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi pangan. Perlengkapan yang dapat digunakan kembali tersebut juga mendukung pengurangan ketergantungan terhadap wadah sekali pakai.
- Gambar ilustrasi
Livia berharap kolaborasi tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membeli pangan secukupnya, menyimpan bahan makanan dengan baik, dan memanfaatkan makanan secara optimal.
“Melalui kolaborasi bersama FoodCycle Indonesia, kami berharap semakin banyak masyarakat menyadari bahwa mengurangi food waste dapat dimulai dari langkah sederhana yakni membeli pangan secukupnya, menyimpan bahan makanan dengan baik, menggunakan kembali wadah yang masih layak, serta memanfaatkan pangan secara optimal sebelum menjadi sampah. Karena semakin banyak pangan yang dapat diselamatkan, semakin besar pula manfaat yang dapat diteruskan kepada orang lain,” pungkas Livia.
Pada akhirnya, mengurangi food waste bukan hanya tentang mengurangi tumpukan sampah, tetapi juga menjaga sumber daya, menekan pengeluaran, dan memperluas akses pangan.
Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan mengelola makanan di rumah, kemudian diperkuat melalui kolaborasi komunitas dan dunia usaha. Sebab, makanan yang masih layak dikonsumsi seharusnya tidak berakhir sebagai sampah ketika masih ada orang lain yang membutuhkannya. (udn)
Load more