News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

500 Hari Perang Rusia-Ukraina: Fakta Fakta Perang Setengah Hati

Saat ini, tentara Rusia secara umum hanya berusaha menahan laju pasukan Ukraina, sebaliknya serdadu Ukraina pun hanya bisa bergerak pelan, meter demi meter.
Minggu, 9 Juli 2023 - 19:46 WIB
500 Hari Perang Rusia-Ukraina belum ada tanda tanda bakal berakhir
Sumber :
  • Antara

Jakarta, tvOnenews.com- Perang Ukraina-Rusia telah memasuki hari ke-500, tetapi belum ada tanda-tanda segera berakhir. Fakta ini tak saja membuat dunia waswas, namun juga membuat cemas, baik Ukraina, Rusia, maupun Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Ukraina memang tengah dalam posisi mengambil inisiatif menyerang, tetapi ofensif balik mereka tak semulus teori di atas kertas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Benteng pertahanan tangguh terdiri dari parit-parit perang tersambung, rangkaian ranjau, dan blok-blok beton yang dibangun Rusia, telah menghambat gerak maju pasukan Ukraina, termasuk unit kavaleri mereka.

Tetapi, kekuatan militer Rusia juga sudah terpangkas, sehingga tak bisa melancarkan ofensif.

Buktinya, Rusia hanya bisa melancarkan serangan jarak jauh dengan menggunakan rudal dan drone, untuk menghancurkan pusat komando Ukraina dan sekaligus meneror penduduk, sehingga pemerintah Ukraina tertekan untuk akhirnya mengakhiri perlawanan.

Saat ini, tentara Rusia secara umum hanya berusaha menahan laju pasukan Ukraina, sebaliknya serdadu Ukraina pun hanya bisa bergerak pelan, meter demi meter.

Ini membuat frustrasi perencana- perencana perang Ukraina, termasuk panglima militer mereka, Jenderal Valerii Zaluzhny, yang menyesali terlambat masuknya bantuan militer Barat ke negara itu.

Keadaan ini, seperti diungkapkan Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Mark Milley, membuat tahap-tahap awal ofensif balik Ukraina menjadi memakan waktu lama dan amat berdarah-darah.

Muncul kemudian wacana agar Amerika Serikat mengirimkan bom curah kepada Ukraina, demi menghancurkan ranjau, barikade anti-tank, dan parit pertahanan garis depan Rusia.

Bom curah dilarang oleh 100 negara, tapi tidak oleh Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia. Ukraina dan Rusia, bahkan menggunakan bom jenis ini dalam perang yang sudah memasuki tahun kedua tersebut.

Wacana menggunakan bom curah adalah satu dari bentuk ketidaksabaran pihak-pihak yang terlibat dalam perang ini.

Rusia sendiri mengancam menggunakan senjata nuklir agar perang ini segera berakhir, tetapi Putin mengesampingkan opsi itu, kecuali Rusia dalam ancaman penghancuran.


Tekanan ibu-ibu

Di Rusia sendiri, ketidaksabaran mendorong tentara bayaran Wagner Group pimpinan Yevgeny Prigozhin, melancarkan pemberontakan demi melengserkan petinggi-petinggi militer yang disebutnya membuat perang Ukraina berlarut-larut.

Walaupun Prigozhin tak membidik Presiden Rusia Vladimir Putin, pemberontakan itu menguatkan pandangan bahwa perang yang berlarut-larut menimbulkan perpecahan internal.

Dalam skenario seperti itu, bukan saja Putin yang terancam, karena Barat juga khawatir menghadapi Rusia pasca-Putin yang bisa lebih brutal dari saat ini.

Sejumlah pakar politik internasional malah beranggapan Barat sebenarnya tak ingin membuat Rusia kacau karena jika negara pemilik senjata nuklir terbanyak di dunia itu mengalami anarki, maka keamanan global bakal terancam.

Dalam konteks ini, ada paradoks dalam perang Ukraina bahwa sponsor-sponsor terbesar perang Ukraina, yakni AS dan Rusia, sama-sama memelihara hubungan dalam semua matra.

AS tidak menutup kedutaan besarnya di Moskow. Rusia juga tak menutup kedutaan besarnya di Washington. Dinas intelijen kedua negara itu juga tetap berbagi informasi, demi mencegah konflik tidak melewati batas yang bisa memicu konflik terbuka di antara mereka.

Di sisi lain, situasi buntu di medan perang bisa memaksa pihak-pihak bersengketa kembali ke meja perundingan. Suara seruan untuk perdamaian sendiri semakin nyaring belakangan ini. Presiden Belarus Alexander Lukashenko saja tiba-tiba menawarkan diri menjadi mediator perundingan.

Sementara itu, menurut laporan NBC, sejumlah mantan penasihat keamanan AS diam-diam bertemu dengan delegasi Rusia pimpinan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov untuk membahas kemungkinan menggelar perundingan damai.

Lavrov tak mengesampingkan perundingan, apalagi realitas-realitas perang semakin sulit dikelola oleh Rusia.

Namun, kalaupun Presiden Vladimir Putin memilih meja perundingan, maka itu bukan karena dia khawatir pasukannya kalah dari Ukraina.

Dia mungkin jauh lebih khawatir jika perang tak segera berakhir, maka semakin banyak tentara Rusia yang menjadi korban. Jika ini terjadi, maka ibu-ibu para tentara Rusia bakal lantang mendesak perang dihentikan.

Keadaan seperti itu pernah terjadi pada akhir 1980-an ketika Uni Soviet terpaksa menghentikan petualangan di Afghanistan, setelah ibu para serdadu Soviet yang tewas di medan perang, mendesak pemerintah menghentikan perang.

Dalam konteks perang Ukraina, Putin lebih suka menempatkan tentara partikelir Wagner Group dan milisi Chechnya di medan-medan perang paling berdarah, termasuk Bakhmut dan Mariupol. Dia berusaha menghindarkan jatuh korban yang banyak dari tentara reguler Rusia.


Demi nyawa manusia

Lebih dari itu, Rusia era ini tidak sama dengan Rusia era Perang Dunia Kedua. Penduduk Rusia era ini berada pada zaman "post-heroic", seperti umum terjadi pada negara-negara bertingkat kelahiran rendah.

Dalam era ini, heroisme sama pentingnya dengan menyelamatkan nyawa manusia. Orang-orang pun menjadi sensitif dengan hilangnya nyawa manusia, apalagi jika jumlahnya puluhan ribu.

Mungkin, karena alasan itu pula Putin menolak mobilisasi total militer Rusia, dengan hanya melakukan mobilisasi parsial.

Saking ingin menepis ketakutan penduduk mengenai jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar, Putin tak mau menyebut petualangan Rusia di Ukraina sebagai "perang", melainkan "operasi militer khusus" yang berkonotasi lebih lembut ketimbang "perang".

Kini, ketika semuanya seperti tengah menjadi jalan buntu, negosiasi pun menjadi pilihan. Masalahnya, opsi itu pun akan pelik untuk pihak-pihak yang bersengketa.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa perundingan damai tak boleh menggadaikan sejengkal pun wilayah Ukraina, termasuk Krimea. Namun, Zelenskyy tahu pasti Rusia tak akan mundur dari sikapnya.

Sebaliknya, Rusia tahu pasti bersikukuh dengan sikapnya, sama halnya dengan mendorong Ukraina semakin cepat bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Jika itu terjadi, maka perbatasan langsung Rusia dengan NATO bakal memanjang.

Sebelum Rusia menginvasi Ukraina, hanya Estonia dan Latvia yang menjadi daerah-daerah NATO yang berbatasan langsung dengan Rusia, selain Kaliningrad yang diapit Polandia dan Lithuania.

Kaliningrad adalah kantong wilayah Rusia yang terpisah dari daratan besar Rusia, seperti distrik Oecusse-Ambeno di Timor Leste, yang dijepit Nusa Tenggara Timur di bagian barat, timur, dan selatannya.

Kini, perang Ukraina malah memperpanjang perbatasan langsung Rusia dengan NATO, setelah Finlandia masuk blok pertahanan ini.

Tak terbayangkan jika Ukraina juga masuk NATO. Hanya Belarus dan Georgia yang menjadi negara penyangga tersisa untuk Rusia. Itu pun jika Georgia memupus keinginan bergabung dengan NATO.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Skenario-skenario seperti itu justru bisa makin mempercepat terwujudnya perundingan damai, walaupun Rusia dan Ukraina akan dipaksa memberikan konsesi-konsesi besar. Tak apalah, demi menyelamatkan umat manusia dan memuliakan lagi perdamaian.(ant/bwo)

 

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Polda Babel Terus Kembangkan Upaya Penyelundupan 53 Ton Pasir Timah Ilegal, Kini 4 Orang Ditetapkan Tersangka

Polda Babel Terus Kembangkan Upaya Penyelundupan 53 Ton Pasir Timah Ilegal, Kini 4 Orang Ditetapkan Tersangka

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kepulauan Bangka Belitung terus mengembangkan kasus dugaan penyelundupan 53 ton pasir timah ilegal yang berhasil diungkap di Kabupaten Belitung.
Kontroversi Piala Dunia Bikin Gianni Infantino Kehilangan Dukungan Internal

Kontroversi Piala Dunia Bikin Gianni Infantino Kehilangan Dukungan Internal

FIFA dilanda gejolak setelah Gianni Infantino dikritik elite internal akibat polemik penjualan saham Piala Dunia. Dukungan terhadapnya pun mulai menyusut.
Resmi! PBSI Tunjuk Nova Widianto Kembali Tangani Ganda Campuran Pelatnas

Resmi! PBSI Tunjuk Nova Widianto Kembali Tangani Ganda Campuran Pelatnas

PBSI resmi mengumumkan bahwa Nova Widianti kembali menjadi Kepala Pelatih ganda campuran Indonesia. Kabar ini diumumkan beberapa hari setelah kerjasama federasi dengan Rionny Mainaky berakhir.
Potongan Kaki Korban Dibuang di Aliran Sungai, Alasan Pelaku Mutilasi Pria di Depok untuk Hilangkan Jejak

Potongan Kaki Korban Dibuang di Aliran Sungai, Alasan Pelaku Mutilasi Pria di Depok untuk Hilangkan Jejak

Polisi menyebut alasan Saepul (26) memutilasi K (51) adalah untuk menghilangkan jejak. Potongan jasad korban lainnya dibuang masih di wilayah Depok.
Dicoret dari Kejuaraan Dunia, PBSI Buka Peluang Jafar/Felisha Perkuat Tim Bulu Tangkis Indonesia di Asian Games 2026

Dicoret dari Kejuaraan Dunia, PBSI Buka Peluang Jafar/Felisha Perkuat Tim Bulu Tangkis Indonesia di Asian Games 2026

PBSI mengungkapkan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta masih berpeluang membela Indonesia di Asian Games 2026 meski dipastikan absen dari Kejuaraan Dunia 2026.
Pelaku dan Korban Mutilasi di Depok Kenal Lewat Media Sosial, Bertemu di Kontrakan hingga Berujung Cekcok

Pelaku dan Korban Mutilasi di Depok Kenal Lewat Media Sosial, Bertemu di Kontrakan hingga Berujung Cekcok

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan pelaku dan korban mutilasi di Depok ternyata kenal lewat media sosial.

Trending

Jadi Tersangka, Begini Pengakuan Wanita Asal Ciamis yang Sebar Ajakan Demo Jelang 17 Agustus

Jadi Tersangka, Begini Pengakuan Wanita Asal Ciamis yang Sebar Ajakan Demo Jelang 17 Agustus

Perempuan berinisial DM (45), warga Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang ditangkap atas dugaan penyebaran informasi bohong atau hoaks di media sosial mengakui perbuatannya.
Pengembangan kasus KPP Banjarmasin, KPK Terbitkan Tiga Sprindik

Pengembangan kasus KPP Banjarmasin, KPK Terbitkan Tiga Sprindik

Kasus dugaan korupsi yang menjerat mantan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Madya Banjarmasin Mulyono Purwo Wijoyo terus dikembangkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kini KPK menyebut  ada tiga surat perintah penyidikan (sprindik) terkait pengembangan kasus tersebut. 
Payment Gateway Dorong Kemajuan dan Kemudahan UMKM

Payment Gateway Dorong Kemajuan dan Kemudahan UMKM

Berbagai pihak turut serta mendorong kemajuan UMKM di tanah air termasuk transformasi pembayaran digital.
Rumor Nikita Mirzani Bebas Agustus 2026 Makin Ramai, Ditjenpas Akhirnya Buka Suara

Rumor Nikita Mirzani Bebas Agustus 2026 Makin Ramai, Ditjenpas Akhirnya Buka Suara

Isu mengenai kemungkinan Nikita Mirzani bebas pada Agustus 2026 terus menjadi perbincangan hangat di media sosial dan berbagai platform digital.
Profil dan Rekam Jejak Bigmo: YouTuber Viral Pernah Jadi Tersangka Kasus Azizah Salsha, Kini Promosi Vape Libatkan Anak

Profil dan Rekam Jejak Bigmo: YouTuber Viral Pernah Jadi Tersangka Kasus Azizah Salsha, Kini Promosi Vape Libatkan Anak

Profil dan rekam jejak Bigmo alias Muhammad Jannah, YouTuber yang kembali menjadi sorotan usai diduga melibatkan anak dalam promosi vape
Wika Salim Tiba-tiba Curhat Soal Fitnah, Dituding Jadi PSK Karena Sering Pulang Malam

Wika Salim Tiba-tiba Curhat Soal Fitnah, Dituding Jadi PSK Karena Sering Pulang Malam

Penyanyi dangdut Wika Salim kembali menjadi perhatian publik setelah membagikan kisah masa lalunya yang penuh perjuangan.
KPK Buka Peluang Periksa Pihak Lain Terkait Kasus Bupati Rejang Lebong

KPK Buka Peluang Periksa Pihak Lain Terkait Kasus Bupati Rejang Lebong

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berpeluang untuk memeriksa pihak lain dalam pengembangan kasus yang menjerat Bupati Rejang Lebong nonaktif, M Fikri Thobari.
Selengkapnya

Viral