Ketegangan Memuncak, Iran Incar Fasilitas IT dan Desalinasi AS Jika Kilang Minyak Mereka Diserang
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin memanas. Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam dan bakal melancarkan aksi balasan jika fasilitas energi mereka menjadi sasaran serangan.
Pernyataan keras ini muncul sebagai respons atas gertakan Presiden AS, Donald Trump, pada Minggu (22/3).
Trump sebelumnya memberikan ultimatum agar Iran segera membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika tidak, Trump mengancam akan menghancurkan berbagai pembangkit listrik di Iran, dimulai dari fasilitas yang paling besar.
Menanggapi ancaman tersebut, Zolfaghari menyatakan bahwa Iran telah menyiapkan daftar target balasan yang mencakup infrastruktur vital milik AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, seluruh infrastruktur energi, serta fasilitas teknologi informasi dan desalinasi air milik AS dan rezim di kawasan akan menjadi sasaran sesuai peringatan sebelumnya,” tegas Zolfaghari sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Fars.
Konflik fisik sebenarnya telah pecah sejak 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan Israel mulai membombardir sejumlah titik di Iran, termasuk wilayah ibu kota Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan serta menimbulkan korban dari kalangan warga sipil.
Sebagai bentuk pembelaan diri, Iran telah melakukan serangan balasan yang diarahkan ke wilayah Israel serta basis-basis militer Amerika Serikat yang tersebar di Timur Tengah.
Meskipun pada awalnya AS dan Israel berdalih bahwa serangan tersebut adalah langkah "pencegahan" demi meredam program nuklir Iran, belakangan kedua negara tersebut secara terang-terangan menyatakan bahwa tujuan akhir dari agresi mereka adalah untuk menggulingkan kekuasaan atau melakukan perubahan rezim di Iran. (ant/dpi)
Load more