China Beri Bantuan ke Iran, Abbas Araghchi Beri Pernyataan Tak Terduga soal Penghentian Perang
- ANTARA
Beijing, tvOnenews.com - Penghentian perang secara menyeluruh.mulai diupayakan, Menteri Luar Negeri China Wang Yi bicara dengan Menlu Iran Abbas Araghchi bicara di telepon pada Selasa (24/3) untuk penghentian perang, bukan hanya gencatan senjata.
"Menlu Araghchi menyampaikan Iran berkomitmen untuk mencapai penghentian perang secara menyeluruh, bukan sekadar gencatan senjata sementara," demikian disebutkan dalam rilis tertulis dalam laman Kementerian Luar Negeri China pada media Selasa.
Dalam pernyataan tersebut, disampaikan bahwa Araghchi menjelaskan perkembangan terbaru situasi di kawasan, serta mengucapkan terima kasih kepada China atas bantuan kemanusiaan darurat yang diberikan.
"Ia menyatakan bahwa rakyat Iran semakin bersatu dalam menghadapi tindakan agresi dari luar serta menjaga kedaulatan dan kemerdekaan negara," demikian disebutkan.
Menlu Araghchi juga menegaskan bahwa Selat Hormuz terbuka bagi semua pihak, dan kapal-kapal dapat melintas dengan aman, tapi hal tersebut tidak berlaku bagi negara-negara yang sedang terlibat dalam konflik.
"Saya berharap langkah-langkah yang diambil oleh semua pihak dapat membantu meredakan situasi, bukan justru memperburuk konflik. Saya juga berharap China dapat terus memainkan peran aktif dalam mendorong perdamaian dan menghentikan perang," kata Araghchi dalam keterangan tersebut.
Sementara Wang Yi menegaskan kembali posisi prinsip China dengan menekankan bahwa semua ketegangan harus diselesaikan melalui dialog dan negosiasi, bukan dengan penggunaan kekuatan militer.
"Berunding selalu lebih baik daripada terus berperang. Hal ini sejalan dengan kepentingan negara dan rakyat Iran, serta mencerminkan harapan umum masyarakat internasional," ungkap Wang Yi.
Wang Yi berharap semua pihak dapat memanfaatkan setiap peluang dan momentum untuk perdamaian, serta segera memulai proses perundingan.
"China akan terus berpegang pada posisi yang objektif dan adil, menentang pelanggaran terhadap kedaulatan negara lain, secara aktif mendorong perdamaian dan penghentian konflik, serta berkomitmen menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan," tambah Wang Yi.
Sebelumnya pada Senin (23/3), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dia telah memerintahkan penundaan selama lima hari untuk semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran.
Hal itu dilakukan oleh Trump dengan alasan bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dengan Teheran selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah, yang disampaikan Trump di platform media sosialnya, Truth Social.
Dia menambahkan bahwa berdasarkan "nada dan isi percakapan yang mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang minggu," dia telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.
Penundaan itu bergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung, tambahnya.
Teheran secara tegas menolak klaim Trump tentang pembicaraan tersebut. Juru Bicara Kemenlu Iran Esmaeil Baghaei menyebut bahwa sejumlah negara bersahabat baru-baru ini mengirimkan pesan kepada Iran yang menunjukkan keinginan AS untuk memulai pembicaraan guna mengakhiri perang. Akan tetapi, Iran masih belum memberikan tanggapan.
Baghaei menegaskan bahwa posisi Teheran terkait Selat Hormuz, serta syarat-syarat mereka untuk mengakhiri perang, tetap tidak berubah.
Dewan Pertahanan Nasional Iran juga mengatakan bahwa setiap upaya oleh "musuh" untuk menargetkan pantai atau pulau-pulau Iran akan menyebabkan pemasangan ranjau di jalur akses dan jalur komunikasi di seluruh Teluk Persia.
Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, dengan korban jiwa yang dilaporkan melebihi 1.300 orang.
Iran membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Aksi balasan Iran itu berdampak terhadap pasar global dan penerbangan. Selat Hormuz pun telah terganggu secara efektif sejak awal Maret.
Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melewati jalur tersebut setiap hari, dan gangguan yang ditimbulkannya telah meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.
Iran pun telah mengambil langkah untuk memastikan kapal transit yang tidak berafiliasi dengan AS atau Israel dapat melintasi selat tersebut. Semua kapal, kecuali kapal "musuh", bisa melintasi Selat Hormuz asalkan berkoordinasi dengan Iran.(ant)
Load more