Pengakuan Alumni Ponpes Al Zaytun: 6 Tahun Belajar Syariat Islam, Setelah Lulus Ngaku Rasakan Keanehan
- Kolase tvOnenews.com
Lahan luas Al Zaytun ini menjadi tanda tanya besar, bagaimana cara Panji Gumilang mendapatkan lahan seluas itu.
Seperti dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube HERRI PRAS, berikut rahasia kelam lahan Al Zaytun yang diungkap oleh Ken Setiawan.
Ken Setiawan mengungkapkan bahwa ada cara yang digunakan untuk menutupi isu NII di Al Zaytun.
Ponpes Al Zaytun disebut oleh Ken Setiawan didominasi santri yang latar belakang orang tuanya juga merupakan anggota NII.
Sementara sisanya adalah santri yang menjadi korban hasil rekrutan anggota NII lainnya.
Kemudian, ada aturan di dalam Al Zaytun bahwa peneliti yang datang tidak boleh membahas apapun tentang NII dan ini yang menurut Ken Setiawan mampu menyembunyikan kebenaran yang ada.
"Jadi kalau datang ke sana hanya melihat pesantren megah 1200 hektare, kita enggak menemukan apa-apa," ungkap Ken Setiawan.
"Inikan gerakan bawah tanah," lanjutnya.
Tentu luas lahan Ponpes Al Zaytun yang begitu besar ini menjadi sorotan.
Apakah 1.200 hektare itu adalah tanah sengketa atau murni milik Al Zaytun?
Ternyata menurut Ken Setiawan, lahan Al Zaytun yang ribuan hektare itu ada yang sudah dilunasi, ada juga yang belum dibayarkan.
Namun jika ditotal lahan Ponpes Al Zaytun yang dipimpin Panji Gumilang berkisar tiga ribu hektare.
"Sebagian sudah dibayar, sebagian belum, totalnya ada lebih sekitar tiga ribu," ungkap Ken Setiawan.
Lantas dari mana dan bagaimana cara yang digunakan Panji Gumilang untuk bisa mendapatkan lahan seluas itu?
Ken Setiawan sampai menyebut Panji Gumilang licik dalam mendapatkan lahan untuk Al Zaytun.
"Jadi modelnya Al Zaytun pintar, Panji Gumilang ini licik," tegas Ken Setiawan.
Cara yang dimaksud oleh Ken Setiawan adalah tidak membayarkan secara penuh lahan tersebut.
Dari harga 100 juta, hanya dibayarkan 10 juta tapi sertifikat lahannya sudah dipegang pihak Panji Gumilang.
Padahal, pelunasannya masih beberapa puluh tahun ke depan.
"Harganya seratus juta, dikasih uang 10 juta, mana sertifikatnya saya pinjam dulu, entar bayarnya berapa puluh tahun lagi," ungkap Ken Setiawan.
Load more