Kedubes AS: Iran Mungkin Serang Infrastruktur Energi Amerika di Irak
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Kedutaan Besar AS di Baghdad memperingatkan warganya pada Rabu bahwa Iran mungkin menargetkan infrastruktur minyak dan energi milik Amerika di Irak di tengah operasi militer AS-Israel terhadap Republik Islam Iran.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan pasukannya telah menyerang pangkalan AS di Kurdistan Irak dan Armada Kelima Angkatan Laut AS.
“Iran dan milisi yang selaras dengan Iran mungkin merencanakan serangan terhadap infrastruktur minyak dan energi milik AS di Irak. Milisi ini juga menargetkan hotel yang sering dikunjungi warga Amerika, termasuk di Kurdistan Irak,” bunyi pernyataan kedutaan.
Kedutaan mendorong warganya meninggalkan Irak secepat mungkin, sambil tetap waspada, menjaga profil rendah, dan menjauhi lokasi yang bisa menjadi sasaran.
Bagi yang tetap tinggal di Irak, kedutaan menyarankan menyiapkan stok makanan, air, obat-obatan, dan kebutuhan penting lainnya.
Kedutaan juga menekankan bahwa ruang udara Irak ditutup dan penerbangan komersial tidak beroperasi, sehingga rute darat ke Yordania, Kuwait, Arab Saudi, dan Turki disarankan.
“Serangan terhadap warga dan kepentingan AS di Irak telah terjadi. Warga Amerika menghadapi risiko penculikan. Perusahaan, hotel, dan fasilitas lain dengan hubungan AS juga pernah diserang,” tambah pernyataan itu.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan ke sasaran di Iran, termasuk Tehran, menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya mengklaim serangan “preemptive” itu perlu untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran, namun segera menegaskan tujuan mereka ingin melihat perubahan kepemimpinan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei syahid pada hari pertama operasi militer AS bersama rezim Zionis itu, dan Republik Islam menetapkan 40 hari berkabung.
Presiden Rusia Vladimir Putin menilai pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran internasional yang sinis, sementara Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam operasi AS-Israel dan menuntut de-eskalasi serta penghentian permusuhan segera.(ant/ree)
Load more