Ini Dia Profil 4 Perusahaan Tambang Nikel di Raja Ampat dan Para Petingginya
- IST
Jakarta, tvOnenews.com - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mendapatkan temuan, ada empat tambang nikel di wilayah Raja Ampat, Papua Barat Daya, yang ternyata bermasalah dan mengancam ekosistem.
Temuan itu berdasarkan pengawasan terhadap kegiatan pertambangan nikel di Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya, pada 26-31 Mei 2025.
Keempat perusahaan tambang nikel itu adalah PT Gag Nikel (PT GN), PT Kawei Sejahtera Mining (PT KSM), PT Anugerah Surya Pratama (PT ASP), dan PT Mulia Raymond Perkasa (PT MRP).
Nama Mantan Menteri berinisial FN ternyata muncul dalam salah satu perusahaan pemilik izin tambang nikel di pulau-pulau kecil di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Pria yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur itu tercantum sebagai Direktur Utama PT Kawei Sejahtera Mining.Â
Demikian diutarakan Sekretaris CERI Hengki Seprihadi, Sabtu (7/6/2025), membeberkan temuannya dari penelusuran data resmi di AHU Kemenkumham RI.Â
"Pada akta notaris PT Kawei Sejahtera Mining tanggal 2 Februari 2021, juga muncul nama NS sebagai Komisaris Utama perusahaan ini. Nama NS sudah tidak asing di jajaran elit nasional," ungkap Hengki.Â
Sementara itu, menurut keterangan Mantan Direktur Minerba Kementerian ESDM, Mangantar S Marpaung kepada CERI, Kontrak Karya (KK) PT Gag Nikel awalnya pada 1998 adalah milik perusahaan penanaman modal asing (PMA) dari Australia, Asia Pacific Nickel Pty Ltd sebesar 75% yang bekerjasama dengan PT Aneka Tambang sebesar 25%.Â
"Kemudian tahun 2008 United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan daerah itu sebagai bagian dari Triangel Coral Inisiatif. Kemudian tahun 2009, sebanyak 10 negara ASEAN meratifikasi inisiatif itu, yang mencakup 6000 km2. Karena penetapan itu, Asia Pacific Nickel Pty Ltd mundur dari Indonesia. Mereka tunduk kpd keputusan UNESCO," ungkap Mangantar Marpaung yang kini juga menjabat sebagai Chairman Djakarta Mining Club.
Lebih lanjut, Mantan Kepala Inspekrur Tambang Ditjen Minerba KESDM itu juga menjelaskan kepada CERI, bagaimana tambang nikel bisa merusak terumbu karang di Raja Ampat.Â
Dijelaskannya, pada dasarnya, seluruh tambang nikel di Indonesia ditambang dengan metode Open Pit.
"Kemudian curah hujan (Rain Gauge) di Indonesia relatif tinggi, tidak seperti di Australia atau Amerika Selatan. Jenis tanah penutup (over burden) dari Nikel itu adalah tanah liat laterit yang mudah menjadi lumpur ketika hujan," beber Mangantar S Marpaung.
Tak kalah penting, lanjut Mangantar kepada CERI, sungai-sungai kecil dan pesisir pantai mudah menjadi keruh oleh lumpur tanah laterit tersebut.Â
"Akibatnya total suspended solid particel atau TSS (Total Suspended Solid) menjadi tinggi. Hal ini menyebabkan berbagai biota laut pesisir akan mati karena kekurangan sinar matahari karena air keruh, termasuk terumbu karang," ulas Mangantar.Â
Hingga kini belum ada konfirmasi dari nama-nama yang disebutkan maupun dari perusahaan tersebut. (ebs)
Load more