Pakar Viktimologi Soroti Kasus Anak Diduga Bunuh Ibu di Medan, Singgung Jadi Perhatian untuk Keluarga KDRT
- Kolase iStockPhoto & tvOneNews
Jakarta, tvOnenews.com - Kasus AI (13), anak diduga bunuh ibu kandung, F (42) di Medan mencuri perhatian publik. Pasalnya kasus pembunuhan ini telah merebak di ruang publik.
AI diduga membunuh ibu kandung sendiri di kamar tidur rumahnya di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Medan, Rabu (10/12/2025) dini hari WIB.
Pakar Viktimologi UI Prof. Heru Susetyo menyoroti kasus anak diduga menikam ibu kandungnya. Ia merasa prihatin kasus ini sangat memilukan sehingga menuai sorotan publik.
"Kita sama-sama sedih dan prihatin juga, ini mungkin bisa dibilang bencana nasional juga ya. Karena pembunuhan dalam keluarga ini sebenarnya tidak banyak terjadi, walaupun belakangan di Indonesia mulai sering terjadi," ujar Heru di program Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne dikutip, Minggu (14/12/2025).
Heru menganalisa kasus ini dari perspektif kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Biasanya kasus KDRT sering terjadi dari orang tua kepada anak.
- tvOneNews
Kasus KDRT juga kerap terjadi terhadap sesama pasangannya. Walau begitu, hal ini tak menutup kemungkinan anak melakukan pembunuhan terhadap orang tuanya sendiri.
Heru enggan memberikan pendapat secara detail lebih lanjut. Ia masih menunggu hasil proses pemeriksaan Kepolisian terkait motif kasus ini.
Ia meminta publik tidak boleh mengecap anak diduga bunuh ibu sebagai terduga pelaku utama. Menurutnya, AI diduga menjadi ABH (Anak Berhadapan dengan Hukum).
Ia menganalisa ada trauma yang dihadapi AI. Jika menjadi korban lingkungan dan sosial, tentu hal ini tidak boleh terjadi dan dirasakan oleh seorang anak.
"Beliau juga anak-anak kategorinya adalah mungkin juga korban dari lingkungan atau korban dari situasi sosial yang kurang menguntungkan buat dia yang sekarang dihadapkan pada sesuatu yang mungkin bisa membuat trauma seumur hidup," jelasnya.
Lebih lanjut, Heru melihat sangat jarang ditemukannya kasus anak perempuan membunuh ibu kandung. Alasannya karena anak perempuan memiliki kedekatan khusus secara psikologis.
"Anak perempuan ini agak jarang memang. Terlepas masalah gender, cuma memang anak perempuan jarang membunuh orang tua, apalagi ibunya karena biasanya ada kedekatan secara psikologis, secara biologis dengan seorang orang tua," tuturnya.
Alarm untuk Keluarga yang KDRT
Kasus ini tentu menjadi alarm bagi para keluarga. Ia memberikan pesan kasus AI diduga membunuh FS sebagai renungan penting untuk keluarga yang mengalami KDRT.
"Kasus yang harus menjadi perhatian kita semua, tidak sekadar para penegak hukum, tapi juga pemerhati masalah keluarga, ketahanan keluarga bermasalah," pesan dia.
Ia mengatakan, kasus ini jika tidak diantisipasi sedari sekarang dikhawatirkan akan terulang lagi. Kasus seperti ini rentan dijadikan contoh para pelaku yang niat jahat terhadap keluarganya.
"Karena orang itu biasanya belajar dari lingkungan, belajar dari media sosial, dia melihat pelaku yang sama di tempat lain akhirnya direplikasi dengan alasan yang berbeda-beda," terangnya.
Ia menambahkan, kasus siswi SD diduga membunuh ibu kandung yang sedang tidur di Medan menjadi pekerjaan khusus untuk para aparat penegak hukum.
"Termasuk memikirkan pola-pola apa yang paling tepat buat menanganinya. Kriminal tidak hanya sekadar kriminal, ada masalah sosial di situ, ada masalah penyimpangan sosial, masalah lingkungan," tukasnya.
Awal Mula Kasus Anak Diduga Bunuh Ibu Kandung di Medan
- Tangkapan Layar TikTok @faizahshoraya
Sebelumnya, kasus pembunuhan anak terhadap ibu kandungnya mencuat pertama kali pada Rabu (10/12/2025). Korban FS ditemukan dalam kondisi bersimbah darah dan tidak bernyawa di kamar tidurnya.
Korban ditemukan sudah tidak bernyawa pada dini hari di kediamannya di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Medan.
Pada saat itu, korban terakhir kali tidur bersama kedua anaknya, AI dan AJ di lantai bawah rumahnya. Jasad FS yang sudah dalam kondisi mengenaskan langsung dibawa ke RS Bhayangkara Medan.
Suami korban langsung melaporkan kejadian ini ke pihak Kepolisian. Motif terduga pelaku membunuh FS karena sakit hati akibat percekcokan.
Kepala lingkungan setempat, Toni membeberkan berdasarkan keterangan dari suami korban, AI diduga tega menganiaya ibu kandungnya menggunakan benda tajam.
"Pelakunya anaknya (korban) yang paling kecil. (Informasi) dari bapaknya, semalam kakaknya itu dimarahi sama korban itu, entah kesindir atau apa," ungkap Toni, Rabu (10/12/2025).
Namun demikian, publik masih belum mempercayai AI sebagai terduga pelaku. Berdasarkan hasil pemeriksaan, ditemukan secara total sekitar 20 luka tusukan di tubuh korban, khususnya di bagian punggung dan tangan.
Sementara pihak Kepolisian telah mengamankan AI sebagai terduga pelaku utama. Anak perempuan tersebut merupakan siswi kelas 6 SD.
Polisi hingga saat ini masih mendalami dan melakukan penyelidikan motif kasus pembunuhan terhadap FS di kamar tidurnya.
(hap)
Load more