Pemerintah Perkuat Antisipasi Cuaca Ekstrem Jelang Libur Natal dan Tahun Baru
- istimewa
Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa selama periode libur Natal dan Tahun Baru, Indonesia menghadapi kombinasi sejumlah fenomena atmosfer yang terjadi secara bersamaan. Kondisi ini berpotensi memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
“Beberapa fenomena yang terjadi antara lain curah hujan tinggi, angin kencang, dan gelombang laut yang cukup tinggi,” ujar Teuku Faisal.
Ia merinci, kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain:
-
Monsun Asia yang aktif
-
Madden–Julian Oscillation (MJO)
-
Gelombang atmosfer
-
Lemahnya fenomena La Niña
-
Indian Ocean Dipole (IOD) negatif
Kombinasi faktor tersebut meningkatkan potensi hujan lebat yang dapat memicu banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah rawan bencana. Selain itu, gelombang tinggi juga berisiko mengganggu aktivitas pelayaran dan transportasi laut.
BMKG terus memperkuat sistem peringatan dini dan menyampaikan informasi cuaca secara berkala kepada masyarakat serta instansi terkait. Pemerintah daerah dan pengelola infrastruktur juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya di jalur-jalur transportasi utama, kawasan wisata, dan daerah rawan bencana.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti informasi resmi cuaca selama libur Nataru. Perencanaan perjalanan yang matang, kepatuhan terhadap imbauan keselamatan, serta kesiapan menghadapi perubahan cuaca mendadak menjadi kunci untuk menjaga keselamatan bersama.
Dengan penguatan koordinasi lintas lembaga dan pendekatan berbasis sains, pemerintah optimistis potensi dampak cuaca ekstrem selama libur akhir tahun dapat ditekan, sehingga masyarakat dapat merayakan Natal dan Tahun Baru dengan aman dan nyaman. (nsp)
Load more