Heboh Kabar Siswa di Bengkulu Meninggal Diduga Keracunan MBG, BGN: Tidak Sesuai Fakta di Lapangan
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan klarifikasi resmi terkait meninggalnya seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara bernama Fatih diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).
BGN menegaskan bahwa musibah tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan program MBG yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giri Kencana.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan bahwa kepastian ini didasarkan pada hasil uji laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Dalam pemeriksaan sampel makanan tersebut, tidak ditemukan bakteri E. coli ataupun zat berbahaya lainnya seperti formalin, boraks, sianida, arsen, maupun nitrit.
"Informasi yang beredar dan mengaitkan kematian korban dengan dugaan keracunan MBG tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Fatih belum memakan menu MBG dari SPPG Giri Kencana ketika diketahui pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit," tegas Nanik di Jakarta, Selasa (3/3).
Pihak BGN turut menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada keluarga almarhum. Masyarakat juga diimbau agar tidak menyebarkan spekulasi liar dan tetap berpegang pada hasil pemeriksaan medis yang sah.
Berdasarkan kronologi medis, Fatih diketahui mengalami penurunan kesadaran secara drastis dengan skor Glasgow Coma Scale (GCS) di angka 6, yang menandakan cedera otak berat.
Setelah sempat dibawa ke RS Lagita Ketahun untuk penanganan darurat, Fatih dirujuk ke RS Bhayangkara karena membutuhkan fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
Hasil pemindaian CT Scan di RS Bhayangkara mengungkapkan adanya pendarahan pada otak korban. Kondisi serius ini membuat Fatih kembali dirujuk ke RS Tiara Sella guna menjalani operasi bedah saraf.
Nyawa Fatih tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia sekitar 12 jam setelah tindakan operasi dilakukan.
Nanik juga menekankan bahwa pada hari kejadian, terdapat ribuan siswa lainnya yang mengonsumsi menu yang sama tanpa mengalami keluhan kesehatan apa pun.
"Dari 1.800 penerima manfaat, tidak ada laporan kejadian serupa. Hanya satu kasus ini, dan secara medis ditemukan adanya pendarahan otak," pungkas Nanik. (ant/dpi)
Load more