Guru Besar Hukum UGM Zainal Arifin Mochtar Diteror Telepon Mengaku Polisi, Diduga Modus Penipuan
- YouTube Dirty Vote
Ia juga menyinggung persoalan kebocoran dan perdagangan data pribadi yang membuat masyarakat rentan menjadi target penipuan. Menurutnya, data pribadi yang mudah diakses pihak tak bertanggung jawab menjadi salah satu penyebab banyaknya panggilan dari nomor tidak dikenal.
“Data kita diperjualbelikan dan berbagai tindakan scam lainnya. Wajarlah beberapa kali nomor kita dihubungi orang tak dikenal,” ujar Uceng.
Imbauan Tidak Mudah Terintimidasi
Merespons penelepon yang mengaku sebagai aparat Polresta Yogyakarta, Uceng menegaskan bahwa upaya mencatut nama polisi untuk mengancam masyarakat tidak akan efektif, khususnya terhadap mereka yang memahami hukum.
Ia juga secara implisit mengingatkan publik agar tidak mudah terintimidasi oleh ancaman melalui telepon, apalagi jika tidak disertai prosedur resmi.
“Itu enggak akan ngefek,” tutup Uceng.
Fenomena Teror Telepon Kian Marak
Kasus yang dialami Guru Besar UGM ini menambah daftar panjang praktik penipuan melalui telepon di Indonesia. Modusnya beragam, mulai dari mengaku sebagai aparat penegak hukum, pegawai pajak, hingga petugas lembaga negara tertentu.
Pelaku biasanya menekan korban secara psikologis dengan ancaman hukum, penangkapan, atau sanksi pidana agar korban panik dan menuruti permintaan mereka. Aparat kepolisian sendiri berulang kali mengingatkan bahwa institusi resmi tidak pernah melakukan pemanggilan atau ancaman hukum melalui telepon pribadi.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada, tidak memberikan data pribadi, serta segera memutus sambungan telepon jika menerima panggilan mencurigakan. Jika perlu, laporan dapat disampaikan kepada pihak berwenang agar kasus serupa dapat ditindaklanjuti. (nsp)
Load more