Banjir Rendam 100 Rumah di Sentral Rangkasbitung, Warga Desak Perbaikan Drainase dan Pembangunan Embung
- unsplash/Iqro Rinaldi
Jakarta, tvOnenews.com - Hujan dengan intensitas tinggi kembali memicu banjir di wilayah Sentral Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Sedikitnya 100 rumah warga dilaporkan tergenang air dengan ketinggian mencapai sekitar 10 sentimeter. Banjir terjadi akibat sistem drainase yang menyempit sehingga aliran air hujan tidak mengalir lancar.
Genangan air tersebut merendam permukiman warga di lingkungan RT 02 dan RT 03 Kampung Sentral. Kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Warga menyebut wilayah tersebut memang kerap menjadi langganan banjir setiap kali hujan deras turun dalam durasi cukup lama.
Ketua RW 13 Kampung Sentral Kabupaten Lebak, Yanto, mengatakan banjir terjadi sejak Senin dini hari dan bertahan hingga pagi hari. Menurutnya, penyebab utama banjir adalah saluran drainase yang tidak berfungsi optimal karena menyempit dan dipenuhi endapan.
“Setiap hujan deras, air selalu meluap ke rumah warga. Drainase yang ada tidak mampu menampung debit air karena sudah menyempit,” ujar Yanto, Senin (12/1).
Ia menegaskan, persoalan banjir di wilayah Sentral Rangkasbitung membutuhkan solusi jangka panjang. Selama ini, upaya pembersihan saluran air belum mampu mengatasi masalah secara menyeluruh. Oleh karena itu, warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan dengan langkah konkret.
Yanto menyebut, salah satu solusi yang telah lama diusulkan warga adalah pembangunan embung untuk menampung air hujan. Selain itu, diperlukan penyudetan drainase agar aliran air dapat langsung mengarah ke Sungai Ciberang sehingga tidak menggenangi permukiman.
“Beberapa tahun lalu kami sudah mengusulkan pembangunan embung. Harapannya, air hujan bisa tertampung dan tidak langsung meluap ke rumah warga,” jelasnya.
Keluhan serupa disampaikan Encup (55), warga Sentral Rangkasbitung yang rumahnya ikut terendam banjir. Ia mengaku banjir mulai masuk ke rumah sejak dini hari setelah hujan turun tanpa henti hingga pagi.
“Ketinggian air sekitar 10 sentimeter. Kami bersama tetangga terpaksa mengeruk dan membuang air secara manual agar tidak semakin tinggi,” katanya.
Menurut Encup, banjir yang berulang ini membuat warga khawatir, terutama terhadap kerusakan perabot rumah tangga dan risiko kesehatan. Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan drainase agar banjir tidak terus terulang setiap musim hujan.
Load more