Profil Sudrajad Djiwandono, Mantan Gubernur BI dan Ayah Thomas Djiwandono yang Diisukan Jadi Deputi Gubernur BI
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com — Nama Thomas (Tommy) Djiwandono tengah menjadi sorotan setelah diusulkan sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Di balik sosoknya, publik kembali menyorot figur ayahnya, Joseph Sudrajad Djiwandono, ekonom senior yang pernah menjabat sebagai Gubernur BI periode 1993–1998 dan dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah kebijakan moneter Indonesia.
Isu pencalonan Thomas sebagai Deputi Gubernur BI membuat rekam jejak Sudrajad Djiwandono kembali diperbincangkan, mengingat perannya yang krusial di BI pada masa krisis moneter Asia akhir 1990-an.
Latar Belakang dan Pendidikan Sudrajad Djiwandono
Sudrajad Djiwandono lahir di Yogyakarta pada 7 Agustus 1938. Sejak muda, ia dikenal sebagai pribadi tekun dalam menempuh pendidikan. Ia meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1963, sebelum melanjutkan studi ke Universitas Boston, Amerika Serikat.
Di Boston University, Sudrajad menyelesaikan pendidikan doktoral dan meraih gelar Ph.D. pada 1980, memperkuat reputasinya sebagai ekonom akademis dengan perspektif internasional.
Karier Akademisi hingga Pemerintahan
Sebelum masuk ke lingkar kebijakan publik, Sudrajad Djiwandono sempat berkarier sebagai dosen dan profesor di berbagai institusi, termasuk di lingkungan pendidikan pascasarjana. Pengalaman akademis tersebut membawanya masuk ke ranah riset dan pemerintahan.
Ia pernah menjadi periset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kepala Biro di Bappenas, hingga menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Perdagangan dan Staf Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Perdagangan, dan Industri. Rekam jejak teknokratiknya membuat namanya dikenal luas di kalangan pembuat kebijakan ekonomi nasional.
Menjadi Gubernur Bank Indonesia
Puncak karier Sudrajad Djiwandono terjadi pada 1993, ketika ia ditunjuk sebagai Gubernur Bank Indonesia. Masa kepemimpinannya bertepatan dengan periode krusial menjelang dan saat krisis moneter Asia 1997–1998, yang mengguncang stabilitas sistem keuangan Indonesia.
Salah satu kebijakan paling kontroversial yang diambil Sudrajad adalah keputusan menutup 16 bank bermasalah, termasuk beberapa yang disebut memiliki keterkaitan dengan keluarga Cendana. Keputusan tersebut kemudian menjadi sorotan politik dan berujung pada pemberhentiannya dari jabatan Gubernur BI pada 11 Februari 1998.
Dalam berbagai kesempatan setelahnya, Sudrajad menyatakan bahwa pencopotannya berkaitan erat dengan sikap tegasnya dalam menangani perbankan bermasalah demi menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Load more