LPI BI 2025 Klaim Ekonomi RI Tahan Banting di Tengah Gejolak Global, Suku Bunga Turun ke Level Terendah Sejak 2022
- YouTube/Bank Indonesia
Jakarta, tvOnenews.com - Bank Indonesia (BI) merilis Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) Tahun 2025 yang menegaskan ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Dalam laporan tersebut, perekonomian Indonesia dinilai tetap solid dan menempatkan diri sebagai salah satu yang terbaik di kelompok Emerging Market Economies.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 ditopang oleh pertumbuhan yang relatif tinggi serta stabilitas makroekonomi yang terjaga.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur bahwa perekonomian Indonesia pada 2025 berkinerja baik dan menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat,” kata Perry dalam peluncuran LPI Tahun 2025, dikutip dari YouTube BI, Kamis (29/1/2026).
BI mencatat inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen, sementara nilai tukar rupiah terjaga berkat komitmen kebijakan yang konsisten. Stabilitas sistem keuangan juga dinilai tetap kuat, tercermin dari permodalan perbankan yang solid serta rasio kredit bermasalah yang rendah.
Di sisi lain, percepatan digitalisasi sistem pembayaran berkembang pesat sepanjang 2025 dan memperkuat ekosistem keuangan digital nasional. Perkembangan tersebut turut menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global.
Menurut Perry, capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif nasional yang didukung sinergi erat antara BI, pemerintah pusat dan daerah, serta otoritas terkait.
“Seluruh bauran kebijakan BI pada 2025 terus diperkuat dan diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas. Ini sejalan dengan program Asta Cita Pemerintah,” jelas Perry.
Dalam LPI 2025, BI juga mencatat penurunan suku bunga kebijakan BI-Rate sebanyak lima kali dengan total 125 basis poin hingga mencapai 4,75 persen pada Desember 2025. Level tersebut menjadi yang terendah sejak 2022.
Selain pelonggaran suku bunga, BI memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah guna menjaga ketahanan eksternal dari dampak gejolak global.
Kebijakan moneter ekspansif ditempuh melalui strategi operasi moneter pro-market untuk meningkatkan efektivitas transmisi suku bunga, likuiditas, serta pendalaman pasar uang dan valuta asing.
BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder serta memberikan insentif likuiditas makroprudensial kepada perbankan. Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas dalam agenda Asta Cita.
Load more