GULIR UNTUK LIHAT KONTEN
News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Ketum PP Muhammadiyah Tolak Wacana Polri di Bawah Kementerian: Bertentangan dengan Roh Reformasi 1998

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir tolak wacana Polri di bawah kementerian. Dinilai bertentangan dengan semangat reformasi 1998 & berisiko mundurkan demokrasi
Jumat, 30 Januari 2026 - 12:12 WIB
Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo dalam rapat kerja Komisi III DPR RI
Sumber :
  • YouTube TVR Parlemen

Jakarta, tvOnenews.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menolak wacana penempatan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di bawah kementerian tertentu. Ia menilai gagasan tersebut tidak sejalan dengan arah reformasi nasional yang telah dibangun sejak 1998 dan berpotensi menggerus capaian demokrasi selama lebih dari dua dekade terakhir.

Pernyataan itu disampaikan Haedar usai menghadiri kegiatan di Universitas Muhammadiyah Semarang, Kamis (29/1/2026) malam. Ia menegaskan bahwa reformasi 1998 bukan hanya perubahan politik, tetapi juga penataan ulang struktur kelembagaan negara, termasuk penempatan institusi strategis langsung di bawah Presiden sebagai simbol supremasi sipil dan konsolidasi demokrasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Indonesia sudah lebih dari 20 tahun menjalani reformasi dengan segala konsekuensinya. Salah satu hasil pentingnya adalah menempatkan institusi strategis langsung di bawah Presiden,” ujar Haedar.

Menurutnya, mengubah kembali struktur tersebut tanpa dasar urgensi yang kuat justru berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam tata kelola pemerintahan. Ia menilai langkah itu dapat memicu ketidakpastian arah reformasi dan membingungkan publik mengenai desain kelembagaan negara ke depan.

Haedar juga menekankan bahwa agenda utama bangsa saat ini seharusnya bukan memindahkan posisi kelembagaan, melainkan memperkuat konsolidasi reformasi yang telah berjalan. Ia berpandangan bahwa berbagai persoalan yang muncul di tubuh institusi negara, termasuk Polri dan TNI, lebih tepat diselesaikan melalui pembenahan internal yang berkelanjutan.

“Kalau ada masalah di Polri, TNI, atau lembaga negara lainnya, seharusnya dilakukan reformasi dari dalam. Itu jauh lebih substantif daripada sekadar memindahkan posisi kelembagaan,” tegasnya.

Ia mengingatkan, penempatan Polri di bawah kementerian berisiko menambah lapisan birokrasi baru yang justru memperumit tata kelola. Menurut Haedar, reformasi birokrasi di tingkat kementerian sendiri masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk soal integritas, efektivitas pelayanan publik, dan pemberantasan korupsi yang belum sepenuhnya tuntas.

“Reformasi birokrasi di kementerian saja belum selesai. Kalau Polri ditempatkan di bawah kementerian, bisa muncul problem baru yang tidak perlu,” katanya.

Haedar menilai, mempertahankan Polri tetap berada langsung di bawah Presiden, disertai upaya pembenahan internal yang konsisten, merupakan pilihan paling rasional untuk menjaga kesinambungan reformasi sekaligus memastikan stabilitas sistem ketatanegaraan. Menurutnya, model ini juga memberikan ruang kontrol yang lebih jelas dalam kerangka supremasi sipil.

Ia menambahkan bahwa keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang tetap menempatkan Polri di bawah Presiden selaras dengan semangat reformasi nasional yang dibangun sejak 1998. Pandangan tersebut, kata Haedar, juga banyak dianut oleh organisasi kemasyarakatan yang mendorong penguatan demokrasi melalui reformasi institusi dari dalam, bukan perubahan struktural yang berpotensi kontraproduktif.

“Supaya tidak muncul kontroversi yang justru membuat rakyat bingung tentang arah bangsa ini ke mana,” ucapnya.

Lebih lanjut, Haedar mengingatkan bahwa stabilitas demokrasi Indonesia sangat ditentukan oleh konsistensi dalam menjaga hasil reformasi. Ia menilai, jika setiap pergantian situasi direspons dengan perubahan struktur kelembagaan, maka agenda besar reformasi justru akan kehilangan arah.

Menurutnya, fokus pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan seharusnya diarahkan pada penguatan profesionalisme aparat, transparansi kelembagaan, serta akuntabilitas publik, bukan pada pergeseran posisi institusi yang berpotensi menimbulkan polemik baru.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Muhammadiyah mendorong konsolidasi demokrasi dengan memperkuat institusi dari dalam, bukan mengubah struktur yang sudah menjadi bagian dari kesepakatan reformasi nasional,” pungkas Haedar.

Dengan sikap tersebut, Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk menjaga semangat reformasi tetap hidup dan konsisten, sekaligus memastikan bahwa arah kebijakan negara tetap sejalan dengan nilai demokrasi, supremasi sipil, dan tata kelola pemerintahan yang efektif. (nsp)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Hadapi Puncak Arus Balik, Polri Kaji Terapkan One Way Lokal pada Senin, 23 Maret 2026

Hadapi Puncak Arus Balik, Polri Kaji Terapkan One Way Lokal pada Senin, 23 Maret 2026

Jelang puncak arus balik Lebaran 2026, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri berencana terapkan satu arah atau one way mulai Senin (23/3/2026) di sejumlah wilayah
Update Harga iPhone 17 Series Maret 2026, Ada Diskon hingga Jutaan!

Update Harga iPhone 17 Series Maret 2026, Ada Diskon hingga Jutaan!

Informasi seputar update harga iPhone 17 Series terbaru Maret 2026 di Indonesia. Cari tahu juga info seputar diskon serta cicilan dalam artikel di bawah ini!
35 Ribu Wisatawan Kunjungi Ancol di Hari Kedua Lebaran 2026, Piknik di Pantai Meski Panas Terik

35 Ribu Wisatawan Kunjungi Ancol di Hari Kedua Lebaran 2026, Piknik di Pantai Meski Panas Terik

Memasuki Minggu (22/3/2026), hingga pukul 14.00 WIB, jumlah pengunjung telah mencapai 35.000
Tiga Sungai Ini Mengamuk di Jakarta Timur, Bikin 46 RT Terendam Banjir

Tiga Sungai Ini Mengamuk di Jakarta Timur, Bikin 46 RT Terendam Banjir

46 RT di Jakarta Timur terendam banjir akibat hujan deras dan luapan tiga sungai, BPBD kerahkan tim dan minta warga waspada.
Terkuak! Pelaku Pembunuhan Cucu Mpok Nori Ternyata WNA Irak, Mantan Suami Jadi Tersangka Utama

Terkuak! Pelaku Pembunuhan Cucu Mpok Nori Ternyata WNA Irak, Mantan Suami Jadi Tersangka Utama

Pelaku pembunuhan cucu Mpok Nori terungkap WNA asal Irak, mantan suami jadi tersangka utama, polisi ungkap pergerakan sebelum kejadian.
Yaqut Jadi Tahanan Rumah Usai Memohon ke KPK, Jubir: Tak Akan Hambat Penyidikan

Yaqut Jadi Tahanan Rumah Usai Memohon ke KPK, Jubir: Tak Akan Hambat Penyidikan

KPK respons mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas yang kini menjadi tahanan rumah. Keputusan ini dipastikan tidak hambat penyidikan kasus dugaan korupsi kuota haji.

Trending

Netizen Berbondong-bondong Komentari Skuad Timnas Indonesia Pilihan John Herdman untuk FIFA Series 2026

Netizen Berbondong-bondong Komentari Skuad Timnas Indonesia Pilihan John Herdman untuk FIFA Series 2026

Keputusan John Herdman memilih skuad Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026 menuai pro dan kontra. Netizen soroti soal Mauro Zijlstra hingga Ezra Walian.
Jay Idzes Resmi Dihukum Jelang Bela Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Mantan Wasit Liga Italia Sampai Buka Suara

Jay Idzes Resmi Dihukum Jelang Bela Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Mantan Wasit Liga Italia Sampai Buka Suara

Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes, resmi dihukum sebelum tampil di FIFA Series 2026. Hal ini menyebabkan mantan wasit Liga Italia buka suara.
Media Vietnam Tercengang Usai John Herdman Umumkan Skuad 'Mahal' Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026

Media Vietnam Tercengang Usai John Herdman Umumkan Skuad 'Mahal' Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026

Skuad mahal Timnas Indonesia pilihan John Herdman jelang FIFA Series 2026 yang mencapai ratusan miliar rupiah sampai membuat media Vietnam ikut tercengang.
Bung Harpa Mulai Curiga kok John Herdman Pilih Cahya Supriadi, Bukan Teja Paku Alam dan Ernando Ari di Timnas Indonesia

Bung Harpa Mulai Curiga kok John Herdman Pilih Cahya Supriadi, Bukan Teja Paku Alam dan Ernando Ari di Timnas Indonesia

Bung Harpa mencoba memprediksi cara berpikir John Herdman yang lebih memilih Cahya Supriadi dan bukan Teja Paku Alam ataupun Ernando Ari di Timnas Indonesia.
3 Hal yang akan Terjadi jika Timnas Indonesia Berhasil Keluar sebagai Juara di FIFA Series 2026

3 Hal yang akan Terjadi jika Timnas Indonesia Berhasil Keluar sebagai Juara di FIFA Series 2026

Jika Timnas Indonesia berhasil meraih kemenangan dalam rangkaian turnamen FIFA Series 2026, setidaknya ada tiga hal bersejarah yang akan terjadi. Apa saja itu?
Jay Idzes Terjebak Wabah di Sassuolo, Bung Harpa Kaget Bukan Main, Terima Kasih Borussia Mönchengladbach

Jay Idzes Terjebak Wabah di Sassuolo, Bung Harpa Kaget Bukan Main, Terima Kasih Borussia Mönchengladbach

Tiga berita bola terpopuler: Jay Idzes terancam absen karena wabah, keputusan John Herdman bikin kaget, dan Kevin Diks resmi diizinkan bela Timnas Indonesia.
Media Italia Tak Habis Pikir, Meski Jay Idzes Bikin Penalti, Kapten Timnas Indonesia Tetap Dapat Pujian Tinggi

Media Italia Tak Habis Pikir, Meski Jay Idzes Bikin Penalti, Kapten Timnas Indonesia Tetap Dapat Pujian Tinggi

Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes jadi sorotan usai terlibat dalam momen kontroversial saat Sassuolo menahan imbang Juventus dalam lanjutan Serie A 2025/2026.
Selengkapnya

Viral

ADVERTISEMENT