Drama OJK dan Efek Domino ke IHSG, Analis Ungkap Akar Masalah Bukan Sekadar Teknis
- istimewa - antaranews
Jakarta, tvOnenews.com - Pengunduran diri Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar bersama dua pejabat kunci pengawasan pasar modal dinilai pasar sebagai sinyal adanya persoalan struktural yang lebih dalam.
Dampaknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam volatilitas lebar, mencerminkan ketidakpastian arah di tengah krisis kepercayaan investor.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai dari perspektif pasar, langkah mundurnya para petinggi OJK menegaskan bahwa masalah yang dihadapi tidak bersifat jangka pendek atau teknis semata.
“Namun dari perspektif pasar, langkah tersebut justru menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar isu teknis jangka pendek, melainkan akumulasi masalah struktural yang selama ini tertunda penyelesaiannya,” ujar Hendra saat dihubungi, Sabtu (31/1/2026).
Dalam jangka pendek, kondisi tersebut tercermin jelas pada pergerakan IHSG yang berfluktuasi tajam dalam rentang 8.210 hingga 8.550. Menurut Hendra, pergerakan lebar ini menunjukkan tarik-menarik kuat antara sentimen negatif akibat ketidakpastian institusional dan aksi beli selektif pada saham-saham berfundamental kuat.
“Rentang yang luas ini mencerminkan tarik-menarik kuat antara sentimen negatif akibat ketidakpastian institusional dan upaya bargain hunting pada saham-saham berfundamental kuat,” jelasnya.
Ia menilai, pola pergerakan tersebut menjadi indikasi bahwa pasar belum memiliki keyakinan arah yang solid. Setiap katalis negatif dengan mudah memicu tekanan jual, sementara sentimen positif hanya mendorong penguatan terbatas dan bersifat teknikal.
Memasuki perspektif jangka menengah hingga panjang, Hendra melihat pengunduran diri para petinggi OJK berpotensi menjadi momentum penting untuk mempercepat pembenahan pasar modal nasional, asalkan diikuti langkah nyata dan konsisten dari regulator.
“Percepatan reformasi free float, penegakan exit policy, peningkatan transparansi kepemilikan saham, serta penguatan tata kelola Bursa Efek Indonesia akan menjadi kunci untuk menurunkan volatilitas dan mengembalikan tren penguatan IHSG secara lebih berkelanjutan,” katanya.
Ia menegaskan, pasar tidak akan berhenti pada figur yang mundur, melainkan pada respons kebijakan setelahnya.
“Pada akhirnya, pasar akan menilai bukan pada siapa yang mundur, melainkan pada apa yang dilakukan setelahnya,” tegas Hendra.
Sebelumnya, Ketua OJK Mahendra Siregar resmi menyatakan mundur dari jabatannya, bersamaan dengan dua pejabat strategis yang membidangi pengawasan pasar modal. Pengumuman tersebut disampaikan melalui keterangan tertulis pada Jumat (30/1/2026).
Selain Mahendra, pengunduran diri juga dilakukan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK), serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK). Ketiganya merupakan figur kunci dalam struktur pengawasan pasar keuangan nasional.
OJK memastikan seluruh proses pengunduran diri telah disampaikan secara resmi dan mengikuti mekanisme hukum yang berlaku.
“Pengunduran diri tersebut telah disampaikan secara resmi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan akan diproses lebih lanjut sesuai mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan sebagaimana telah diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan (UU P2SK),” demikian keterangan tertulis OJK. (agr/aag)
Load more