Kapolda NTT Kirim Paket Bantuan untuk Orangtua Siswa SD yang Bunuh Diri, Isinya Lebih dari Sekadar Sembako
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Aksi kemanusiaan ditunjukkan Kapolda Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol Rudi Darmoko, terhadap keluarga almarhum siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada yang meninggal dunia secara tragis.
Sebagai bentuk solidaritas, jajaran Polda NTT menyalurkan bantuan sosial guna meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.
Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, menyatakan bahwa bantuan ini merupakan cerminan empati Polri terhadap musibah yang menimpa warga.
"Di tengah duka mendalam yang dialami keluarga seorang siswa Sekolah Dasar yang meninggal dunia di Kabupaten Ngada, Polda NTT bersama Polres Ngada menyalurkan bantuan sosial sebagai bentuk perhatian dan dukungan moril," ungkap Henry dalam keterangannya di Kupang, Kamis (5/2).
Paket bantuan yang diserahkan meliputi kebutuhan pokok, seperti 100 kilogram beras, empat dus mie instan, telur, serta dua dus paket tali kasih dan amplop santunan.
Prosesi penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh Wakapolres Ngada, Kompol Osman Hendaru, pada Rabu (4/2).
Henry menambahkan bahwa langkah ini adalah instruksi langsung dari pimpinan untuk memastikan negara hadir di tengah masa sulit masyarakat.
“Bantuan sosial ini adalah wujud empati dan perhatian Bapak Kapolda NTT kepada keluarga korban. Kami berharap kehadiran Polri dapat memberikan kekuatan serta meringankan beban keluarga di tengah masa duka,” jelas Henry.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa peran kepolisian tidak terbatas pada penegakan hukum saja, melainkan juga mengedepankan sisi humanis.
"Polri tidak hanya hadir dalam aspek keamanan dan penegakan hukum, tetapi juga dalam misi kemanusiaan melalui kegiatan sosial yang menyentuh langsung masyarakat," tegasnya.
Sebelumnya, publik digemparkan dengan kabar seorang bocah SD di Ngada yang nekat mengakhiri hidupnya pada 29 Januari lalu. Sebelum pergi, siswa tersebut meninggalkan pesan terakhir yang sangat mengharukan bagi ibundanya, MGT (47).
Dalam surat yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, korban menuliskan pesan perpisahan:
Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama.
Selama ini, almarhum tinggal bersama neneknya karena sang ibu harus berjuang keras sebagai orang tua tunggal.
Load more