Kendala Biaya Bukan Faktor Siswa SD Bunuh Diri di NTT? Wamendikdasmen Ungkap Dana PIP Korban Sudah Dicairkan Sebelum Tragedi
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen), Fajar Riza, memberikan klarifikasi terkait kasus tragis seorang siswa SD berinisial Y di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya.
Ia menegaskan bahwa siswa tersebut sebenarnya merupakan peserta aktif dalam Program Indonesia Pintar (PIP).
Fajar menjelaskan bahwa kabar mengenai tekanan finansial perlu dilihat secara lebih mendalam, mengingat bantuan pendidikan telah disalurkan kepada korban.
“Anak yang bersangkutan terdaftar sebagai penerima PIP. Di sekolahnya ada 72 siswa penerima PIP, termasuk almarhum,” kata Fajar saat melakukan kunjungan ke SMP Negeri 70 Kota Bandung pada Jumat (6/2).
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa alokasi dana PIP untuk tahun 2025 bagi korban sudah dicairkan pada bulan November.
Dana tersebut pun telah dialokasikan untuk membiayai kebutuhan sekolah seperti buku, sepatu, seragam, serta alat tulis.
Kendati demikian, Fajar menekankan bahwa faktor ekonomi bukanlah satu-satunya pemicu tindakan nekat tersebut.
Menurutnya, ada keterkaitan antara kondisi psikologis, emosional, hingga hubungan sosial korban yang perlu diperhatikan.
“Anak usia 10 tahun itu sebenarnya belum memahami makna bunuh diri. Mungkin dengan cara itu dia berpikir masalahnya akan selesai. Ini yang perlu kita pahami bersama,” ujarnya.
Sebagai respons terhadap kejadian ini, kementerian berencana melakukan langkah pencegahan jangka panjang.
Upaya tersebut mencakup revitalisasi peran guru bimbingan konseling (BK), optimalisasi Unit Kesehatan Sekolah (UKS), serta meningkatkan kepekaan guru wali kelas dalam mengawasi kondisi psikis murid.
“Guru di sekolah menjadi pihak pertama yang bisa mendeteksi bila ada masalah psikologis pada anak. Ini yang sedang kami perkuat sejak 2025. Mudah-mudahan ke depan kasus seperti ini bisa ditekan,” katanya.
Wamen juga menyampaikan rasa duka yang mendalam atas peristiwa ini.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin menyalahkan satu pihak saja, melainkan berfokus pada perbaikan kebijakan secara struktural.
“Dari berbagai kajian, tidak ada faktor tunggal yang membuat anak melakukan tindakan seperti itu. Banyak aspek yang saling berkaitan,” ucap Fajar.
Selain berkomitmen menjaga privasi keluarga yang ditinggalkan, Fajar mendorong implementasi pendidikan karakter melalui program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Load more