Dukung UMKM Sebagai Pilar Pertumbuhan Ekonomi Inklusif, Kadin dan APF of Canada Teken MoU
- tvOnenews - Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Dalam upaya mendukung UMKM dan perempuan Indonesia sebagai pilar pertumbuhan ekonomi , Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia), Anindya Bakrie menandatangani MoU dengan Asia Pacific Foundation of Canada (APF of Canada).
Penandatanganan kerjasama ini menindaklanjuti Canada–Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) oleh Presiden RI, Prabowo Subianto, akhir tahun lalu.
Anindya Bakrie katakan, arah hubungan bilateral ini semakin jelas, khususnya dalam mendorong perdagangan, investasi, dan pemberdayaan pelaku usaha kecil.
“Jadi ini kerja sama dengan Kanada. Seperti kita ketahui bahwa akhir tahun lalu, Pak Presiden (Prabowo Subianto) itu menandatangani Canada-Indonesia CEPA,” ucap Anindya Bakrie, di APEC Business Advisory Council (ABAC) Meeting I Tahun 2026, Shangri-La Jakarta, pada Jumat (6/2/2026).
“Dan berkali-kali bertemu sejak saat itu dengan Prime Minister Mark Carney untuk memperkuat perdagangan antara Indonesia dan Kanada. Dan terlihat tanda-tanda semakin jelas,” lanjutnya menjelaskan.
Untuk diketahui, kerja sama yang diteken ini melibatkan Kadin Indonesia dengan Asia Pacific Foundation of Canada.
Di samping itu, Anindya Bakrie mengapresiasi konsistensi lembaga tersebut dalam menjaga kemitraan jangka panjang dengan Indonesia, sekaligus fokus pada UMKM dan perempuan sebagai pilar pertumbuhan ekonomi inklusif.
“Dan yang saya apresiasi dari organisasi Anda adalah konsistensi yang terus dijaga selama bertahun-tahun. Dan juga fokus kepada UMKM dan juga perempuan,” bebernya.
Anindya Bakrie menjelaskan, besarnya potensi UMKM nasional yang mencapai sekitar 60 juta unit usaha, dengan lebih dari separuhnya dikelola perempuan.
Kemudian, Anindya Bakrie menekankan pentingnya perluasan akses pasar, likuiditas, serta model bisnis yang mudah diadopsi agar pelaku UMKM perempuan bisa naik kelas.
Dalam konteks ini, Anindya Bakrie juga menyinggung peran teknologi pembayaran digital QRIS yang telah digunakan pemerintah untuk distribusi bantuan kepada jutaan penerima.
“Nah, perlu saya sampaikan di sini bahwa UMKM di Indonesia itu ada 60 juta. Lalu lebih dari setengahnya perempuan. Tadi saya bicara sedikit mengenai QRIS which is the QR code technology digital payment yang sudah dipakai pemerintah juga untuk mendistribusikan ke 5 juta penerima untuk sekitar Rp250 triliun,” ucap Anindya Bakrie.
Sementara itu, President and CEO Asia Pacific Foundation of Canada, Jeff Nankivell menyambut kerja sama tersebut sebagai langkah strategis memperdalam kemitraan Indonesia–Kanada di kawasan Asia Pasifik.
Jeff Nankivell menegaskan, CEPA menjadi tonggak penting yang membuka ruang kolaborasi lintas sektor, mulai dari bisnis, pendidikan, hingga riset.
“Merupakan suatu kehormatan bagi saya mewakili lembaga publik nasional Kanada untuk kerja sama Asia Pasifik, yaitu Asia Pacific Foundation of Canada atau Yayasan Asia Pasifik Kanada. Saya sangat senang bisa berada di sini,” kata Jeff.
Masih lanjut Jeff Nankivell menjelaskan, bahwa nota kesepahaman dengan Kadin Indonesia Institute akan mendorong lebih banyak aktivitas bersama, termasuk riset kolaboratif dan pertukaran kunjungan.
Selain itu, Jeff Nankivell memproyeksikan meningkatnya kehadiran warga Kanada di Indonesia, baik untuk urusan bisnis, pendidikan, maupun pariwisata.
“Karena itu, nota kesepahaman yang kini kami miliki dengan Kadin Indonesia Institute akan mendorong lebih banyak aktivitas di sini. Kami akan melakukan riset bersama dan menyelenggarakan lebih banyak kegiatan,” ujarnya.
Kerja sama ini diharapkan menjadi katalis baru bagi hubungan ekonomi Indonesia–Kanada, dengan UMKM dan perempuan sebagai pusat pertumbuhan, sekaligus memperkuat jejaring bisnis kedua negara di tengah dinamika ekonomi global. (agr)
Load more