Pilih Jalur Politik dari Keluarga, Didi Mahardhika Soekarno Sebut Setia ke Prabowo dan Gerindra
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Nama Didi Mahardhika Soekarno, cucu Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno, kembali menyita perhatian publik. Bukan semata karena garis keturunannya, melainkan juga karena pilihan jalur politik yang dinilai berbeda dari mayoritas keluarga besar Bung Karno.
Mahardhika menyatakan, sikap politik yang ia ambil bukan keputusan sesaat. Ia mengaku berjalan di atas dua amanah yang ia pegang teguh, yakni amanah dari sang ibunda almarhum Rachmawati Soekarnoputri, serta amanah dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang disebutnya sudah seperti keluarga sendiri.
"Pesan ibunda jelas, tetap setia kepada Bapak Prabowo Subianto dan Partai Gerindra. Alhamdulillah amanah itu saya jalankan sejak dulu," tutur Mahardhika, Senin (9/2).
Pada momen Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Partai Gerindra, Mahardhika juga menyampaikan ucapan selamat dan harapannya agar Gerindra terus menjadi kekuatan politik yang menjaga persatuan bangsa.
Mahardhika menjelaskan, pilihannya berlabuh di Partai Gerindra dilandasi keyakinan ideologis. Ia menilai, Gerindra merupakan partai yang paling merepresentasikan nilai-nilai Bung Karno tanpa dikotomi dan tanpa upaya mengadu-benturkan.
"Gerindra itu cocok dengan darah ideologi saya. Ada garis ajaran kakek saya, Bung Karno, tetapi tidak dibenturkan dengan siapa pun," jelasnya.
Ia juga menegaskan, kedekatannya dengan Prabowo tidak hanya sebatas hubungan politik, tetapi sudah menjadi hubungan personal.
"Bagi saya, Pak Prabowo sudah seperti bapak sendiri. Itu yang saya pegang," ujarnya.
Mahardhika turut menyoroti masih adanya upaya sejumlah kelompok yang terus menghidupkan dikotomi lama dalam politik nasional, seperti narasi Pro-Soekarno versus Pro-Suharto dan pembelahan serupa.
Menurutnya, pola semacam itu sudah tidak relevan dan hanya memperkecil bangsa.
"Menurut saya, dikotomi itu sudah tidak relevan. Mengkotakkan rakyat Indonesia ke dalam pro sini atau pro sana hanya memperkecil bangsa ini," katanya.
Ia juga menyayangkan penggunaan tokoh-tokoh besar sebagai alat politik yang justru memunculkan narasi memecah belah.
"Kasihan masyarakat. Mereka disajikan hal negatif, dijual gambar tokoh-tokoh yang akhirnya berdampak semu, hanya pseudo," tambahnya.
Load more