Survei Capres 2029: Prabowo Masih Teratas, Wajah Baru Mulai Masuk Radar
- dok. BPMI Istana Negara
Jakarta, tvOnenews.com – Peta politik menuju Pemilihan Presiden 2029 mulai menunjukkan dinamika baru. Hasil survei terbaru Indonesian Public Institute (IPI) mengungkapkan sejumlah wajah segar masuk dalam bursa bakal calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2029, di tengah dominasi nama-nama besar yang masih memimpin elektabilitas.
Peneliti IPI Abdan Sakura menjelaskan, munculnya tokoh-tokoh baru dalam survei capres 2029 tidak terlepas dari kombinasi faktor kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, integritas, serta eksposur media. Menurutnya, pemilih saat ini semakin rasional dan tidak lagi hanya mempertimbangkan popularitas semata.
“Tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie Sjamsoeddin tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral,” ujar Abdan, Selasa (10/2/2026).
Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Dalam survei IPI, Sjafrie masuk dalam 10 besar tokoh potensial capres 2029 dengan elektabilitas 7,5 persen. Elektabilitas tersebut ditopang oleh empat indikator utama, yakni kepemimpinan dan ketokohan sebesar 44 persen, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen, serta integritas 10 persen.
Selain Sjafrie, survei IPI juga menempatkan sejumlah kepala daerah sebagai kandidat potensial capres 2029. Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, serta Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda masuk dalam jajaran 10 besar tokoh nasional yang dinilai layak maju dalam kontestasi mendatang.
Berikut daftar elektabilitas tokoh dalam survei IPI terkait bursa capres 2029:
-
Prabowo Subianto: 22,3 persen
-
Gibran Rakabuming Raka: 12,2 persen
-
Ganjar Pranowo: 9 persen
-
Anies Baswedan: 8,5 persen
-
Dedi Mulyadi: 7,9 persen
-
Pramono Anung: 7,8 persen
-
Sjafrie Sjamsoeddin: 7,5 persen
-
Purbaya Yudhi Sadewa: 4,9 persen
-
Sherly Tjoanda: 3,8 persen
Abdan menilai, elektabilitas Sjafrie bersaing ketat dengan sejumlah tokoh kepala daerah yang selama ini dikenal publik. Menurutnya, persaingan ketat di papan tengah membuka ruang bagi dinamika politik baru, terutama jika terjadi perubahan peta koalisi, krisis nasional, atau absennya figur utama dalam kontestasi mendatang.
“Di sinilah ruang politik terbuka. Ketika ada kekosongan figur dominan atau perubahan konstelasi elite, tokoh-tokoh baru bisa melonjak cepat,” ujarnya.
Survei IPI juga mencatat bahwa rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan bahwa popularitas semata tidak lagi cukup. Pemilih semakin kontekstual dan mempertimbangkan rekam jejak serta kapasitas kepemimpinan dalam menentukan pilihan, khususnya untuk Pilpres 2029.
Meski begitu, dominasi nama-nama besar masih terlihat kuat. Presiden Prabowo Subianto menempati posisi teratas dengan elektabilitas 22,3 persen, jauh meninggalkan tokoh lain. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di posisi kedua dengan 12,2 persen, disusul Ganjar Pranowo dengan 9 persen.
Menurut Abdan, kondisi ini menunjukkan kuatnya pengaruh kekuasaan, kontinuitas elite, serta eksposur media dalam membentuk persepsi publik terhadap figur capres dan cawapres 2029. Namun, ia menilai jarak antara tingkat kelayakan yang tinggi dan elektabilitas yang masih moderat mengindikasikan pemilih belum sepenuhnya menjatuhkan pilihan.
“Publik mengenal dan menilai, tetapi belum sepenuhnya menentukan sikap politiknya. Ini menandakan ruang kontestasi masih sangat terbuka,” katanya.
Survei Indonesian Public Institute dilakukan pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden berusia 17–65 tahun yang tersebar di 35 provinsi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling, dengan margin of error sebesar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Dengan hasil tersebut, bursa capres dan cawapres 2029 diperkirakan akan semakin dinamis dalam beberapa tahun ke depan. Masuknya wajah-wajah baru, baik dari kalangan menteri maupun kepala daerah, menjadi sinyal bahwa peta politik nasional tidak lagi sepenuhnya didominasi figur lama, meskipun kekuatan elite masih menjadi faktor penentu utama dalam membentuk preferensi pemilih. (ant/nsp)
Load more