Politikus Gerindra: MBG Adalah Investasi Masa Depan Indonesia
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut-sebut bukan sekadar bantuan pangan, melainkan investasi strategis jangka panjang bagi bangsa. Program ini dirancang untuk menyiapkan kualitas sumber daya manusia sejak dini guna menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
"Apakah MBG sekadar belanja pemerintah, seperti bansos, gaji pegawai negeri, atau biaya operasional kantor? Ataukah ia sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang negara yang berdampak sistemik terhadap konsumsi, produktivitas, dan bahkan penerimaan pajak?" ujar politikus Partai Gerindra Arief Poyuono, kepada wartawan, Senin (15/2).
Menurutnya jika MBG dipahami hanya sebagai belanja rutin pemerintah, maka MBG akan diperlakukan sebagai beban fiskal.
"Namun jika kita menempatkannya sebagai investasi negara dalam pembangunan manusia, maka perspektifnya berubah total: MBG menjadi instrumen strategis pertumbuhan ekonomi," kata Komisaris Pelindo ini.
Ia menekankan dalam konteks ini, MBG adalah investasi pada kualitas sumber daya manusia, pada kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi mendatang. Gizi yang cukup pada usia sekolah terbukti meningkatkan konsentrasi belajar, memperbaiki kehadiran di kelas, dan memperkuat perkembangan kognitif.
"Dalam jangka panjang, efek tersebut bermuara pada peningkatan produktivitas tenaga kerja. Ketika produktivitas naik, pendapatan masyarakat meningkat. Ketika pendapatan meningkat, konsumsi ikut terdorong. Dan ketika konsumsi menguat, roda ekonomi bergerak lebih cepat," ujarnya.
Lebih jauh lagi, peningkatan produktivitas dan konsumsi akan berdampak pada penerimaan pajak. Basis pajak yang lebih luas dan ekonomi yang lebih sehat akan meningkatkan penerimaan negara tanpa harus menaikkan tarif pajak. Artinya, MBG berpotensi memperkuat kapasitas fiskal negara itu sendiri.
"Dalam kondisi ekonomi global yang lesu dan penuh ketidakpastian, instrumen domestik seperti MBG menjadi penting. Tanpa pengungkit internal yang kuat, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa saja tertahan di bawah kisaran 4–5 %. Namun dengan dorongan konsumsi domestik dan peningkatan produktivitas akibat investasi pada gizi, pertumbuhan 2025 yang diproyeksikan di kisaran 5,39% menjadi lebih realistis," tegas Arief.
Argumen ini tidak berdiri di ruang kedap. Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa investasi pada program makan bergizi di sekolah menghasilkan tingkat pengembalian yang sangat tinggi. UNICEF dan Bank Dunia mencatat bahwa setiap 1 dolar yang diinvestasikan dalam program makan sekolah dapat menghasilkan manfaat ekonomi antara 4 hingga 35 dolar melalui peningkatan kesehatan, pendidikan, dan produktivitas.
Load more