Dorong Bahlil Bangun PLTN, Pakar Energi: Nuklir Kunci Ketahanan Energi dan Transisi Bersih Indonesia
- Abdul Gani Siregar/tvOnenews
Jakarta, tvOnenews.com - Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang didorong Menteri ESDM sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) Bahlil Lahadalia mendapat dukungan kuat kalangan akademisi.
Sejumlah pakar energi menilai langkah tersebut bukan sekadar proyek listrik, melainkan strategi jangka panjang untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
Pakar energi Universitas Hasanuddin, Muhammad Bachtiar Nappu, menyebut Indonesia seharusnya mulai mengarah pada pengembangan reaktor nuklir skala kecil atau Small Modular Reactor (SMR). Teknologi ini dinilai paling realistis untuk kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan.
“Maka PLTN modular dalam bentuk SMR (Small Modular Reactor) itu truly energy security for the future adalah PLTN, tapi dalam bentuk yang small,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (17/02/2026).
Ia menjelaskan Indonesia memiliki potensi bahan baku nuklir berupa uranium dan thorium yang tersebar di sejumlah wilayah seperti Bangka Belitung, Kalimantan hingga Mamuju. Dengan kapasitas yang fleksibel, SMR dapat dibangun bertahap untuk memperkuat elektrifikasi wilayah terpencil.
“Lebih baik dibangun yang small ini daripada PLTN konvensional. Karena PLTN konvensional minimal kapasitasnya 1.000 MW. Tapi kalau small, misalnya 50 MW,” ujar Bachtiar.
Dukungan serupa datang dari pakar energi Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan, Andi Jumardi. Ia menilai nuklir merupakan energi masa depan yang justru ekonomis bagi negara berpenduduk besar seperti Indonesia.
“Apalagi untuk negara dengan populasi besar seperti Indonesia, karena harganya relatif lebih murah dibanding energi fosil,” ujarnya.
Menurut Andi, Indonesia juga tidak kekurangan sumber daya manusia untuk mengelola teknologi tersebut. Ia menepis kekhawatiran publik terkait keselamatan nuklir dengan menyebut teknologi pembangkit saat ini jauh lebih maju.
“Kalau dari riset yang pernah saya lakukan, dari sisi sumber daya manusia kita sangat kompeten untuk pengembangan energi nuklir. Kita juga punya cadangan uranium di Kalimantan Barat. Kasus Fukushima itu force majeure karena bencana alam yang luar biasa. Dari situ, teknologi terus berkembang untuk mengantisipasi risiko serupa di masa depan,” tegasnya.
Peneliti Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, menilai keunggulan utama PLTN terletak pada kemampuan menghasilkan energi besar dari bahan bakar yang sangat kecil.
“PLTN itu unggul dari sisi densitas energi. Dengan bahan bakar yang sangat kecil, kita bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil,” kata Ary.
Ia menambahkan nuklir termasuk energi bersih karena tidak menghasilkan emisi karbon dalam proses pembangkitannya.
“Secara proses, nuklir itu bersih. Tidak ada emisi karbon, yang ada hanya panas untuk memutar turbin,” ujarnya.
Menurut Ary, hambatan utama pengembangan PLTN bukan pada teknologi, melainkan kesiapan lokasi, infrastruktur, dan integrasi industri. Ia juga menilai persepsi negatif masyarakat masih menjadi tantangan besar.
“Teknologi sekarang jauh lebih aman dibanding masa lalu. Sistemnya makin otomatis, kontrolnya ketat, dan ketergantungan pada faktor manusia semakin kecil. Dengan teknologi terbaru, risiko itu bisa ditekan sangat rendah. Nuklir sering diserang lewat isu lingkungan, padahal kalau dibandingkan, pembangkit fosil justru jauh lebih mencemari,” tegasnya.
Dengan dukungan para pakar, rencana pemerintah mengembangkan energi nuklir kini mulai dipandang sebagai langkah strategis: bukan hanya solusi listrik jangka panjang, tetapi juga fondasi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia.(Agr/ree)
Load more