Prabowo Gaungkan “Good Neighbour Policy” di AS: 1.000 Teman Masih Kurang, Satu Musuh Terlalu Banyak
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan arah baru diplomasi Indonesia di panggung internasional, di hadapan kalangan pengusaha Amerika Serikat dalam forum Business Summit US Chamber of Commerce, Rabu (18/2/2026) malam.
Dia menekankan komitmennya menjalankan kebijakan luar negeri yang ia sebut sebagai Good Neighbour Policy sejak awal masa pemerintahannya.
Prabowo menilai Indonesia berada dalam posisi strategis karena menikmati stabilitas dan perdamaian relatif panjang. Oleh sebab itu, menurutnya, pendekatan terbaik adalah membangun hubungan harmonis dengan negara-negara di kawasan.
“Kami sangat beruntung bahwa Indonesia telah menikmati periode stabilitas dan perdamaian yang relatif panjang. Kami melanjutkan kebijakan luar negeri non-blok dan menghormati semua kekuatan besar,” tuturnya.
“Saat saya menjabat, saya mengumumkan tekad untuk menjalankan kebijakan Good Neighbour Policy. Saya bertekad untuk membina dan meningkatkan hubungan terbaik dengan semua tetangga di sekitar Indonesia, baik di kawasan sekitar kita maupun kawasan Asia Timur dan Indo-Pasifik yang lebih luas,” lanjut Prabowo.
Ia kembali mengulang prinsip diplomasi yang kerap disampaikannya, yakni pentingnya memperbanyak kawan dalam pergaulan internasional sekaligus menghindari konflik terbuka.
“Saya memegang prinsip bahwa ‘1.000 teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.’ Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam politik luar negeri, tetapi juga dalam politik domestik saya,” katanya.
Prabowo mengaku melalui kerja sama dan kolaborasi mendapatkan hasil yang bermanfaat bagi seluruh pihak.
“Kompetisi itu perlu, namun setelah kompetisi harus ada kerja sama,” ujarnya.
Menurut Prabowo, negara berkembang seperti Indonesia membutuhkan stabilitas politik internal agar mampu tumbuh dan bersaing. Karena itu, ia menekankan pentingnya kompromi dan kolaborasi antarelite nasional.
“Ini adalah keyakinan saya, dan sejarah mengajarkan bahwa negara pada tingkat pembangunan seperti Indonesia harus menempa kompromi, kerja sama, dan kolaborasi di antara para elite negara. Kita harus berkompetisi, tetapi kita juga harus berkolaborasi demi kebaikan yang lebih besar,” lanjutnya.
Dalam konteks ekonomi, kepala negara menilai kepercayaan internasional akan muncul bila stabilitas terjaga. Ia menyebut kepastian hukum dan tata kelola pemerintahan sebagai fondasi utama untuk menarik investasi global.
Load more